Kendati demikian, Direktur Utama BMF Irawan Massie belum puas. Dia melihat jumlah tersebut belum seberapa jika dibandingkan potensi penerima bantuan yaitu masyarakat pra-sejahtera di Indonesia yang jumlahnya masih banyak. ''Namun setidaknya BMF akan melengkapi program-program sejenis yang telah diprakarsai pemerintah, semisal Kredit Usaha Rakyat (KUR),'' ujar Irawan, di Jakarta, kemarin.
Dia menjelaskan, pada tahap awal, mulai tahun 2011 ini BMF mengalokasikan modal sebesar Rp 100 miliar per tahun. Target jangka panjang dengan pertumbuhan yang konsisten dalam lima tahun diperkirakan lebih dari Rp 500 miliar.
Seperti diketahui, besaran modal yang dipinjamkan oleh BMF sebesar 100 dolar AS atau sekitar Rp 1 juta per orang. Pinjaman ini diberikan tanpa jaminan atau tanpa agunan dengan angsuran sangat ringan, sekitar Rp 25 ribu per minggu. Modal inilah yang dapat dipergunakan oleh penerimanya untuk membangun usaha yang diharapkan dapat menghasilkan keuntungan dan meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan. Sebagian hasil usaha dapat dipakai untuk mengangsur.
BMF memfokuskan pemberian modal pada para ibu dan kaum perempuan. Hal ini dimaksudkan agar hasil dari usaha benar-benar dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan keluarga, terutama pendidikan anak-anak. Kaum hawa juga dinilai pandai mengatur keuangan dan umumnya memiliki tanggungjawab besar untuk mengembalikan.
Irawan menjelaskan, agar sesuai sasaran, BMF meminta komitmen penerima kredit untuk tidak menggunakan pinjaman untuk keperluan konsumtif. Modal dan hasil usaha hanya boleh digunakan untuk meningkatkan gizi dan kesehatan keluarga, serta pendidikan anak-anak mereka. ''Itulah keunggulan kredit yang disalurkan BMF,'' katanya.
Kelebihan lainnya, lanjut Irawan, ketika dana berhasil dikembalikan oleh seorang peminjam, maka dana tersebut akan disalurkan kembali kepada keluarga lainnya. Tapi bila nasabah tersebut masih memerlukan pinjaman dan membuktikan mampu mengembalikan dan menggunakan uang dengan tertib, mereka boleh mendapat peningkatan pinjaman sebesar 20 persen.
Irawan mengakui, di samping permodalan, masyarakat miskin juga sangat butuh edukasi. Karena itu BMF tidak sekadar memberikan bantuan modal, namun juga akan melakukan bimbingan usaha dan penyuluhan dalam rangka pemberdayaan perempuan. ''Dan tak hanya edukasi soal keuangan, tapi juga aspek kehidupan lainnya seperti ketrampilan, kesehatan dan lain,'' jelasnya.
[ade]