Jusuf Kalla Masih Berpeluang Jadi Presiden RI

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/zulhidayat-siregar-1'>ZULHIDAYAT SIREGAR</a>
LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR
  • Selasa, 29 Maret 2011, 10:36 WIB
Jusuf Kalla Masih Berpeluang Jadi Presiden RI
jk/ist
RMOL. Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla masih memiliki peluang menjadi presiden, baik melalui pemilihan presiden di tahun 2014 maupun melalui pemilihan presiden yang digelar MPR bila terjadi situasi yang mengharuskan Presiden SBY bersama Wakil Presiden Boediono berhenti dari jabatan sebelum 2014.

Menurut Ketua Komite Indonesia 2014, Teguh Santosa, JK dan kemampuannya mengelola pemerintahan dengan gaya yang khas masih diperbincangan banyak kalangan umum maupun politik di tanah air. Di bursa calon presiden 2014 pun nama JK masih cukup laku. Berbeda dengan SBY yang sudah pasti tidak lagi bisa menjabat sebagai presiden, atau Megawati Soekarnoputri yang sudah dua kali ikut pilpres langsung dan kalah.

“Disadari atau tidak, banyak pihak yang berharap JK tampil di masa-masa sulit seperti sekarang ini,” kata Teguh di Jakarta, Selasa pagi (29/3).

Dari analisa yang dilakukan Komite Indonesia 2014 terhadap sejumlah figur yang pantas dianggap menjadi calon pemimpin bangsa ini, JK memperoleh nilai sempurna. Penilaian dilakukan dengan menjumlahkan bobot dari sembilan indikator yang diperhitungkan. Selain JK, Kristiani Yudhoyono yang kini adalah Ibu Negara juga mengantongi nilai sempurna.

“JK diuntungkan oleh situasi karena penampilan Boediono sebagai wakil presiden saat ini tidak sebagus JK sebelumnya. Sikap Boediono yang cenderung pasif juga dianggap sebagai salah satu sebab utama menurunnya popularitas pemerintah,” kata Teguh lagi.

Pasal 8 UUD 1945 menyatakan, bila Presiden dan Wakil Presiden berhalangan tetap, maka dalam waktu 30 hari MPR akan menggelar pemilihan presiden yang diikuti oleh calon-calon yang diajukan oleh partai dan/atau gabungan partai yang dalam pilpres sebelumnya menempati posisi pertama dan kedua.

Itu berarti Partai Demokrat dan koalisinya akan mengajukan calon baru. Sementara PDI Perjuangan akan mengajukan calon yang bisa jadi Megawati Soekarnoputri lagi. Mungkin Mega akan tetap menggandeng Prabowo Subianto. Tetapi mungkin juga, merujuk pada perubahan sikap Gerindra belakangan ini, Mega akan menggandeng tokoh lain.

Adapun Golkar yang dalam Pilpres 2014 lalu mendukung duet JK dan Wiranto akan menjadi pemain bebas. Sikap Golkar akan ditentukan oleh pembicaraan tingkat tinggi antara kubu JK dan kubu penguasa di partai itu kini. Namun yang jelas, sikap JK pribadi semestinya tidak akan begitu dipengaruhi oleh sikap Golkar dan Aburizal Bakrie.

Kombinasi dari sikap JK dan sikap Golkar itulah yang memungkinkan JK akan bisa dipasarkan ke partai-partai lain, terutama Partai Demokrat yang sedang mengalami krisis tokoh. 

“Dalam beberapa tahun terakhir JK telah berhasil menempatkan dirinya sebagai individu yang punya nilai jual tinggi walaupun tanpa partai politik,” ujar Teguh lagi. [zul]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA