Revolusi Mesir dan reformasi Indonesia sama-sama tidak memiliki tokoh sentral gerakan. Hal ini berbeda dengan Iran yang memiliki simbol perlawanan seperti Ayatullah Imam Khomeini maupun revolusi China yang memiliki tokoh gerakan seperti Mao Tse Tung. Mesir dan Indonesia juga sama-sama tidak memiliki ideologi dan sistem yang ditawarkan setelah rezim tumbang.
Demikian disampaikan aktivis buruh, Dita Indah Sari, kepada
Rakyat Merdeka Online, beberapa saat lalu (Minggu, 13/2).
Selain itu, menurut Dita, peran penting gerakan Indonesia dan Mesir sama-sama dikuatkan oleh kaum miskin perkotaan. Mereka adalah kaum yang paling merasa tertindas oleh pemerintahan yang berkuasa.
"Bedanya, di Mesir digalakan pertama kali oleh kelas menengah yang memiliki akses terhadap jejaring sosial sementara di Indonesia oleh mahasiswa," demikian Dita.
BERITA TERKAIT: