"Biasa saja, mau 18, 30, 50 biasa-biasa saja," kata Ahmad Mubarok dalam
talkshow di
TVOne petang tadi (Minggu, 16/1).
Tetapi, yang menyedihkan, kata Gurubesar Ilmu Psikologi Islam di UIN Jakarta ini, hal itu dikeluarkan oleh para tokoh lintas agama. Dia menuding, gaya bahasa para tokoh agama itu adalah gaya bahasa LSM dan politisi.
"Lihat saja bahasanya, kalau politik disasarkan langsung. Kalau agama, penuh dengan instropeksi, bangsa kita, kita semua. Itu contohnya. Bahasa dari tokoh agama itu menggunakan LSM dan politik , itu merendahkan tokoh agama," tegas Mubarok.
Mubarok juga menegaskan, bahwa dalam melawan kebohongan harus dengan cara kejujuran, bukan dengan kebohongan. Dia mengambil contoh soal kematian aktivis HAM Munir dan dibandingkan dengan pembunuhan mantan Presiden Amerika Serikat, Jhon F Kennedy.
"Misalnya kasus Munir. Itu adalah sebuah kegagalan dan kegagalan bidang seperti itu berlaku dimana saja. Presiden Kennedy itu dulu dibunuh. Sampai sekarang belum ketahuan (pembunuhnya). Itu bukan berarti pemerintah Amerika bohong. Tapi gagal mengungkapkan," tandasnya.
[zul]