Anak-anak di Lereng Merapi Butuh Recovery Pendidikan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/zulhidayat-siregar-1'>ZULHIDAYAT SIREGAR</a>
LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR
  • Rabu, 29 Desember 2010, 17:03 WIB
Anak-anak di Lereng Merapi Butuh <i>Recovery</i> Pendidikan
Bima Arya Sugiarto/ist
RMOL. Upaya pemulihan kondisi (recovery) korban erupsi Gunung Merapi yang meletus pada 26 Oktober lalu memang tengah dilakukan pemerintah. Namun sayang, belum ada upaya yang signifikan untuk membantu perbaikan pendidikan bagi anak-anak di sekitar lereng Merapi.

Setidaknya, hal ini terlihat dari minimnya sarana dan prasarana yang memadai bagi kelanjutan pendidikan anak-anak korban erupsi Gunung Merapi. Padahal, di tengah kondisi sulit pasca diterpa bencana, pendidikan bagi anak-anak harus tetap bergulir demi memberikan pencerdasan kepada anak bangsa.

"Bantuan terhadap korban erupsi Gunung Merapi seharusnya tidak saja diwujudkan dalam bentuk hiburan rakyat, namun juga bantuan fasilitas fisik dan pendidikan. Ini penting untuk menunjang kelanjutan pendidikan anak-anak korban bencana Merapi," ujar Ketua Dewan Pembina sebuah organisasi kepemudaan yang bernama Gen A, Bima Arya Sugiarto di Jakarta, hari ini (Rabu, 28/12).

Menurut dia, walau secara umum situasi di Gunung Merapi sudah mulai membaik, namun proses recovery bagi masyarakat korban bencana masih sangat panjang. Hal ini terlihat dengan banyaknya anak-anak putus sekolah yang masih menempati barak-barak pengungsian.

"Kami menganggap perlu upaya recovery terhadap pendidikan anak-anak putus sekolah sebagai hal yang wajib menjadi prioritas utama. Bangunan sekolah yang hancur, sarana dan prasarana belajar yang tidak memadai bisa memicu turunnya semangat belajar anak-anak di tenda pengungsian," jelas Bima.

Bersama Gen A, Bima ikut menyumbangkan dua unit motor pintar, yang masing masing berisi 750 buku dengan beragam variasi judul yang dapat dimanfatkan anak-anak untuk belajar membaca dan berkreativitas di Kelurahan Umbulharjo, Cangkringan, Yogyakarta, Sabtu (18/12). Motor pintar ini juga dilengkapi satu unit komputer dan DVD sebagai sarana penunjang.

"Sambil menunggu proses recovery terhadap infrastruktur yang mampu menunjang kegiatan belajar mengajar, kami memberikan motor pintar agar dapat digunakan sebagai sarana penunjang bagi anak-anak putus sekolah akibat erupsi Gunung Merapi," papar Doktor Ilmu Politik lulusan Australian National University ini.

Tak hanya itu, Bima juga siap menyebar anggotanya untuk ikut memantau secara langsung program pendidikan yang bisa dijalankan selama recovery lereng Gunung Merapi dilakukan. Saat ini, kata Bima, kondisi di sekitar lereng Gunung Merapi memang sangat memprihatinkan dan membutuhkan penanganan serius.

"Kami akan terus memantau perkembangan proses pemulihan warga lereng Gunung Merapi, khususnya dalam bidang pendidikan dan kesejahteraan anak. Kami juga akan memberikan layanan air bersih yang bisa digunakan masyarakat untuk mempermudah aktivitas mereka," tambah petinggi Partai Amanat Nasional ini.

Sejak Jumat (17/12), puluhan aktivis Gen A sudah tiba di beberapa wilayah pengungsian korban bencana Merapi. Mereka juga membawa 10 buah tangki air dengan kapasitas masing masing 350 liter yang diberikan cuma-cuma untuk warga. Sebab, selain pendidikan, salah satu masalah utama pasca bencana adalah kurangnya ketersediaan air bersih. [zul]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA