JOURNALIST DIARY

Mbah Surip dan Satire Gayus Tambunan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Selasa, 23 November 2010, 19:16 WIB
Mbah Surip dan Satire Gayus Tambunan
gayus tambunan/rm
RMOL. "Tak gendong kemana-mana. Tak gendong kemana-mana. Enak donk, mantep donk. Daripada kamu naik pesawat kedinginan. Mendingan tak gendong to, enak to, mantep to. Ayo.. Kemana"
Itu adalah sepenggal lirik lagu milik Mbah Surip yang fenomenal.

Sebuah lagu tentang kepolosan yang juga dinyanyikan seorang yang polos juga.

Namun lirik tersebut sangat pas menjadi satire kasus mafia pajak, yang bebas keluar masuk bui. Bahkan hingga bisa melihat secara langsung Kejuaraan Tenis Internasional di Nusa Dua Bali. Sebuah tontonan yang hanya bisa dinikmati oleh warga kelas satu.

Sekedar mengingatkan, Gayus hanyalah pegawai kantor Pajak golongan III A yang gajinya hanya pada kisaran jutaan rupiah saja.

Tapi seketika Gayus menjadi populer lantaran disebut oleh Susno Duadji sebagai bagian dari mafia pajak. Mantan Kabareskrim Komjen Susno Duadji menyebutkan Gayus memiliki Rp 25 miliar di rekeningnya, namun hanya Rp 395 juta yang dijadikan pidana dan disita negara. Sisanya Rp 24,6 miliar tidak jelas.

Gayus mendapatkan ini dari praktek kotor pemutihan pajak dari perusahaan besar penunggak pajak, termasuk perusahaan Bakrie, PT Kaltim Prima Coal (KPC), PT Bumi Resources, dan PT Arutmin.

Gayus akhirnya ditangkap oleh Polri dan dijebloskan di Rumnah Tahanan Mako Brimob, Kelapa Dua Depok.

Cerita lama pun berulang. Pameo orang kaya kebal hukum dirasakan oleh Gayus. Pundi-pundi uangnya membutakan mata Karutan Brimob Kompol Iwan Siswanto dan delapan petugas lainnya. Dengan menyuap ratusan juta rupiah, Gayus melenggang.

Kembali ke lirik nakal Tak Gendong yang dipopulerkan almarhum Mbah Surip.

Entah diskenariokan atau tidak, lirik Mbah Surip sangat relevan dengan kondisi ini. Gayus tak akan mulus keluar masuk bui jika tidak ada yang "menggendongnya ke mana-mana".

Kalau tak ada uang ya jangan berharap bisa lolos.

"Ha..ha..ha.." seperti tawa khas Mbah Surip.

Karena uang, apa yang dilakukan untuk mengejarnya semua benar, dianggap wajar dan lumrah, yang mengatakan salah itu dianggap karena tidak punya kesempatan.

Di sisi lain pejabat negara pun memafhumkan praktek "menggendong" yang haram itu. Ironisnya, praktek ini sudah berakar kuat. Ibarat pohon beringin makin besar sebuah pohon beringin, maka makin kuat akar mencengkeram tanah.

Istilah "tidak ada yang gratis di dunia ini" adalah implikasi begitu parahnya praktek pungli, manipulasi, dan korupsi. Jadi jangan heran untuk urusan ganti KTP saja, kita harus menyiapkan fulus atau dengan kata lain cerminan begitu parahnya hubungan muamalah di antara sesama manusia.

Sadar atau tidak, lirik nakal Mbah Surip adalah gambaran bahwa masyarakat kita mengalami tekanan sosial politik dan ekonomi. Jadi apresiasi seni budaya malah muncul sebagai otokritik atas kondisi yang ada. Sebagai satire kepada penguasa. [arp]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA