Demikian dikatakan Ketua Dewan Direktur Sabang-Merauke Circle (SMC) Syahganda Nainggolan kepada
Rakyat Merdeka Online (Selasa, 2/11). Syahganda mengatakan itu menanggapi pernyataan Presiden SBY dan Ketua DPR Marzuki Alie, agar warga yang tinggal di rawan bencana direlokasi, termasuk di pantai kepulauan Mentawai.
Syahganda mengungkapkan Mentawai merupakan daerah turis asal Australia untuk berselancar. Kalau misalnya, Mentawai dimanfaaatkan jadi tempat wisata yang lebih maju, tentu hal itu akan menjadi pendapatan baru bagi masyarakat dan negara.
Selain itu, dia menambahkan, tak mungkin memisahkan masyarakat dari habitat atau alamnya yang telah ia tempati sekian lama. Manusia itu bersatu dengan alam, jadi tidak bisa dipaksakan begitu saja untuk pindah. Kalau misalnya, masyarakat sudah tidak betah tinggal di satu tempat, lanjut Syahganda, masyarakat itu pasti akan pindah dengan sendirinya.
Makanya, dia menegaskan, pemerintah jangan langsung berfikir relokasi. Kecuali, masyarakat sendiri yang menginginkan hal itu.
"Yang penitng dibangun daerahnya seperti Hawaii di Amerika Serikat, ada alat deteksi gempa. Kemudian dibangun tempat-tempat perlindungan kalau ada tsunami. Misalnya, dibuat bukit-bukit kecil, sekitar 3 kilometer dari pantai, kalau misalnya tidak ada bukit disitu. Kan pasti ada jeda waktu, jadi masyarakat sempat berlari berlindung," jelasnya.
"Lalu dikembangakan
local wisdom. Itu hewan-hewan yang ada akan memberi tahu kalau terjadi tsunami. Misalnya, kerbau atau gajah akan kasih tahu duluan. Itu juga harus diperhatikan," tandasnya.
[zul]
BERITA TERKAIT: