"Padahal, harga saham sejumlah emiten di BEI (Bursa Efek Indonesia) yang kinerjanya tidak seprospektif KS tetap disergap investor kendati harganya lebih tinggi dari patokan harga IPO KS. Logikanya, harga IPO per saham KS bisa di atas Rp 1.000. Kita semua tidak buta atau bodoh," ujar anggota Komisi III DPR Bambang Soesatyo (Senin, 1/11).
Politisi Partai Golkar ini menegaskan, hampir setiap hari rakyat Indonesia membaca di media massa tentang arus masuk dana asing atau
capital inflow ke pasar uang dalam negeri dalam jumlah besar. Itu berarti investor asing siap membeli saham dari perusahaan-perusahaan terkemuka di Indonesia, termasuk BUMN sekaliber PT KS.
"Jadi harga saham KS itu tidak wajar. Kami di komisi III DPR sedang dlm tahap mengumpulkan data. Banyak data sudah kami terima, tetapi kami harus pertajam akurasinya," jelas Bamsoet, panggilan akrabnya.
Untuk sementara, Bamsoet menduga akan ada dua pihak yang siap mengambil untung dari penjualan saham itu. Pertama adalah pihak yang akan menggoreng saham KS dan yang kedua adalah pihak yang akan melepas ribuan slot saham di pasar sekunder begitu harga KS didongkrak oleh si penggoreng. "Siapa mereka? itulah yang sedang kami telusur," cetusnya.
[zul]
BERITA TERKAIT: