Pembatalan ini karena Indonesia sedang berduka dengan rentetan musibah yang terjadi belakangan ini. Mulai dari banjir bandang Wasior, Papua, tsunami Mentawai, Sumatera Barat, dan gunung Merapi meletus di Yogyakarta.
Demikitakan dikatakan Ketua Umum Ikatakan Mahasiswa Muhammadiyah Ton Abdillah Haz kepada
Rakyat Merdeka Online, sesaat lalu (Kamis, 28/10).
Meski begitu, lanjut Ton, sembilan elemen mahasiswa tetap menggelar aksi unjuk rasa saat ini di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat. Tapi massa yang ikut aksi dibatasi.
"Nggak ada mobilisasi, massanya dibatasi. Karena suasana duka. Ada sembilan elemen mahasiswa. Setiap elemen mahasiswa dibatasi hanya menurunkan 25 orang," jelas Ton.
Sembilan elemen mahasiwa itu adalah IMM, Himpunan Mahasiswa Islam, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, Persekutuan Mahasiswa Kristen Indonesia, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama, Badan Eksekutif Mahasiswa Mercu Buana, BEM Universitas Bung Karno, Kesatuan Aksi Mahasiswa Universitas Trisakti.
Karena suasana duka, mahasiswa yang kesemuanya memakai pita hitam juga akan menggalang dana untuk korban musibah yang terjadi di Wasior, Mentawai, dan Yogyakarta. Selain itu, masih kata Ton, untuk elemen mahasiswa yang memiliki koordinasi nasional, seperti IMM, HMI, PMKRI, GMNI, PMII dan IPNU, juga menggelar aksi yang sama di berbagai daerah.
Meski dalam suasana duka, mahasiwa juga tetap menyatakan Pemerintahan SBY-Boediono gagal dalam memimpin negeri ini. Dalam aksi tersebut, lanjut Ton, mahasiwa membacakan "Tujuh Gugatan Mahasiswa".
Ketujuh gugatan tersebut adalah usir penjajahan asing, usut korupsi
bailout Bank Century dan pengadaan sistem infromasi dan teknologi Komisi Pemilihan Umum. Sedangkan lima tuntutan lainnya adalah stop kenaikan harga, stop politik pencitraan, stop penjualan aset negara, stop diplomasi banci, dan stop pemiskinan rakyat.
[zul]
BERITA TERKAIT: