"Tapi surat saya tidak sampai.Buktinya keadaan tidak pernah berubah. Penyebabnya adalah banyak
rasputinisme di lingkungan presiden," ujar Sri Edi dalam pidatonya di diskusi "Memaknai Kedaulatan dan Kemandirian Bangsa antara Harapan dan Realita" di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (26/8).
Di sekeliling SBY, lanjut Edi, banyak bercokol orang-orang yang disebutnya "kutu loncat" yang hanya bisa menyanjung agar "bapak senang" dan menjauhkan pandangan SBY dari kenyataan dampak negatif neoliberalisme.
"
Ok, Wakil Presiden kita neolib tapi seharusnya dia lebih mementingkan kesejahteraan masyarakat. Harusnya dia ikut menasihati juga presiden. Sampai saat ini saya kira belum ada berikan nasihat pada Yudhoyono. Sekali-kali bilanglah,
tell, you wrong, sir," ujar Sri Edi.
Terkahir ia berpesan, neoliberalisme di Indonesia sudah tidak lagi bisa ditolerir karena membuat bangsa ini terus menerus tunduk pada aturan-aturan Bank Dunia.
"Bos kita Washington Consensus. Privatisasi dimana-mana. Kalau sudah menurut sama Bank Dunia siapapun bisa bertekuk lutut," tandasnya.
[ald]