Setelah mantan juru bicara presiden era pemerintahan Abdurrahman Wahid, Adhi Massardi, kini giliran Gurubesar Ilmu Politik Universitas Indonesia, Iberamsyah angkat bicara. Iberamsyah menegaskan, pengamat itu tidak punya kepentingan apa-apa. Pengamat hanya mengungkapkan sesuatu berdasarkan fakta dan data yang terjadi.
"Saya ini akademisi, tidak punya kepentingan apa-apa kecuali untuk perbaikan negeri ini. Saya tidak mau melebih-lebihkan sesuatu yang tidak ada. Saya tidak mau memberi komentar yang sebelumnya saya tidak ketahui. Apalagi ini bulan puasa," ujar Iberamsyah kepada
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Kamis, 26/8).
Iberamsyah mengatakan, penilaian pengamat bahwa Presiden SBY sering ragu, lamban, bahkan cering curhat dalam merespons berbagai persoalan yang dihadapai rakyat adalah fakta. Bahkan, ujarnya, tak hanya pengamat, sesepuh TNI, Jenderal (Purn) Tri Sutrisno, kemarin ketika bertemu dengan pimpinan MPR juga merasakan hal yang sama sambil mengkritik kepemimpinan nasional.
"Artinya tidak hanya pengamat, sesepuh jenderal juga merasakan hal yang sama. Jadi tidak ada yang dilebih-lebihkan. Semua sesuai fakta," katanya lagi.
[zul]