"Belum nampak prestasi yang cepat dan menggigit dari beliau. Ada kesan beliau lambat. Saya kurang tahu pasti apakah sangking kompaknya koordinasi dengan presiden atau karena tidak ada koordinasi sama sekali," lanjutnya.
Tapi, terlepas dari itu Suhardi khawatir terhadap teori ekonomi liberal yang diusung Boediono.
"Karena tidak cocok dengan Indonesia," lanjutnya.
Jadi apakah keduanya bisa dievaluasi?
"Saya belum bisa menilai secara
integrated, karena masa kinerjanya masih singkat. Kalau sudah dua tahun mungkin baru bisa dievaluasi. Hanya memang saya saat ini sudah geregetan juga. Alasannya sederhana, negara ini harusnya makmur, tanah begitu luas dan juga subur, tapi tidak digarap tidak digarap dengan baik," lanjutnya.
Pemerintah, menurutnya, menggunakan skala prioritas yang salah.
"Budget anggaran lebih besar dipakai untuk industri yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan penambahan kemakmuran rakyat. Teori yang dipakai hanya membagi-bagi yang sudah ada," lanjutnya.
[arp]