ORANG BAJO ROTE-NDAO

Ketika Bodi Terbawa Angin dan Arus

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Jumat, 06 Agustus 2010, 09:39 WIB
Ketika Bodi Terbawa Angin dan Arus

SETELAH menempuh perjalanan udara selama 20 menit dari Kupang, menggunakan pesawat berpenumpang 12 orang plus angin kencang yang menantang nyali, akhirnya saya bersama tim dari Kementerian Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal tiba di Pulau Rote, tepatnya di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (Rabu, 4/8).

Perjalanan ke pulau ini sempat tertunda sehari. Tadinya, rombongan kami berencana menempuh rute laut. Tetapi laut sedang tak bersahabat ketika itu. Tinggi gelombang mencapai lima meter. Tidak ada kapal yang berani membelah selat di antara ujung baratdaya Pulau Timor dan ujung timurlaut Pulau Rote. Rombongan kami terpaksa menginap sehari di Kupang untuk menunggu pesawat. Rute penerbangan dari Kupang ke Pulau Rote pun terbilang jarang. Biasanya calon penumpang harus menunggu dua hari. Tetapi, beruntunglah kami karena menunggu hanya satu hari.

Pulau Rote. Mutiara di Laut Timor di sekitar kawasan perbatasan Indonesia dan Australia ini menyimpan cerita menarik mengenai kehidupan masyarakat pedesaan di perkampungan nelayan Dusun Papela, Kecamatan Rote Timur. Mayoritas penduduk di desa ini adalah Suku Bajo yang memiliki tradisi laut yang kuat, yang diwariskan turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bagi orang Bajo, laut, dimanapun, adalah rumah mereka. Kehidupan masyarakat Dusun Papela inipun tergantung dari aktivitas melaut dan kekayaan laut, mulai dari ikan sampai rumput laut.

Saya menyempatkan diri menyusuri jalanan di Dusun Papele. Sikap ramah dan ceria tampak jelas di wajah keras istri para nelayan. Mereka cukup terbuka untuk berbicara dengan orang luar. Biasanya para istri nelayan menunggu para suaminya mendarat dan membawa ikan. Namun karena hari itu laut sedang ganas para kaum mama lah yang mendapat giliran bekerja. Mereka menjual ikan yang diasinkan dan menjual rumput laut.

Sejak kecil anak laki-laki Suku Bajo sudah diperkenalkan pada keganasan sekaligus keindahan dan kekayaan laut. Di Dusun Papele anak laki-laki memulai aktivitas melaut sepulang dari sekolah. Orang Bajo di dusun ini mulai memberikan perhatian yang serius untuk pendidikan anak mereka. Meskipun ada di antara mereka yang tidak mampu membiayai sekolah anak-anak mereka.

Sementara wajah dengan garis tegas tergambar di wajah lelaki Bajo. Meski terlihat keras, mereka adalah pribadi yang hangat dan ramah, yang tak sungkan menyelingi cerita mereka dengan canda.

Soal bekerja tidak usah diragukan lagi. Nelayan di Dusun Papela dikenal sebagai pekerja keras yang pantang menyerah. Itu juga diakui oleh unsur Pemerintah Kabupaten Rote Ndao.

Hal lain mengapa nelayan Papela dikenal sebagai pekerja keras, karena sebagai laki-laki mereka pantang berdiam diri di darat. Mereka baru akan dianggap laki-laki kalau melaut dan mencari ikan meski bahaya menghadang mereka.

Biasanya kapal yang digunakan nelayan adalah kapal tradisional yang disebut bodi. Disebut bodi seukuran dengan badan. Dulu ketika melaut mereka hanya berbekal kompas. Namun kini, seiring dengan perkembangan zaman, sebagian besar dari mereka telah menggunakan global positioning system (GPS). Pulang dari laut nelayan Papela membawa pulang ikan cakalang, tuna, palagis, yang bisa satu sampai dua ton dalam kurun waktu enam jam saja.

Kerja keras adalah cara mereka untuk memenuhi tanggung jawab sebagai suami dan ayah, juga untuk memperlihatkan keakuan mereka sebagai laki-laki. Hendri Haji Nayur, misalnya. Pria berumur 35 tahun ini pantang menyerah melaut mencari ikan, meskipun dirinya sudah tiga kali ditangkap dan ditahan oleh pemerintah Australia karena dianggap melakukan pencurian ikan di laut konservasi yang diklaim sebagai milik Australia.

Padahal sejak tahun 1700an, sebelum pemerintah Australia berdiri, nenek moyang Hendri dan nelayan-nelayan di pesisir pantai Dusun Papela sudah melaut dan mencari ikan sampai ke kawasan itu. Apalagi di dalam peta, tempat nelayan Indonesia mencari ikan, yaitu Pulau Pasir di perairan Asmoref, lebih dekat ke wilayah Indonesia dibandingkan ke wilayah Australia. Pulau itu berada 250 kilometer dari Pulau Rote. Sementara bila diukur dari garis pantai terluar Australia, jaraknya lebih dari 350 kilometer.

“Saya sudah tiga kali ditahan. Ditangkap Dinas Perikanan Australia ditahan satu minggu. Dan ditangkap Polisi Darwin, karena dianggap sudah tiga kali melanggar, saya sempat disidang dan divonis penjara tiga bulan. Tapi saya ditahan enak. Kalau sakit diobati dan saya digaji 57 dollar Australia per minggu karena bekerja di masa tahanan,” cerita Hendri.

Sambung Hendri, setiap kali ditangkap ia selalu menggunakan alasan yang itu-itu saja: kapal terbawa angin dan arus.

Ditangkap dan mendekam dalam tahanan adalah hal biasa bagi nelayan Dusun Papela. Tergiur jumlah ikan yang melimpah di laut konservasi tersebut membuat Hendri dan kawan-kawan tetap mencari ikan disana. Bahkan, tidak jarang satu atau dua kapal mereka dibakar oleh pihak berwajib Australia. Kerugian ditafsir puluhan juta rupiah. Seringkali kapal yang dibakar itu adalah kapal sewaan yang disewa Rp 5 juta per minggu.

Apabila nasib sial menimpa, kapal sewaan “terbawa anging dan arus” lalu dibakar pihak Australia, tentu saja nelayan Papela menderita kerugiaan dua kali. Pertama, harus membayar uang sewa, dan kedua membayar harga kapal yang dibumihanguskan Australia. Hal inilah yang membuat banyak nelayan Papela terlilit utang. Dan satu-satunya jalan adalah mencari ikan sebanyak-banyaknya, tanpa mempedulikan keselamatan dan kemungkinan ditahan. Hendri sendiri masih menanggung utang Rp 9 juta. Dia harus kerja keras untuk melunasi utang tersebut.

Kasus yang dialami nelayan Dusun Papela juga menjadi perhatian pemerintah setempat. Sudah tak terbilang penyuluhan yang disampaikan. Tetapi apa boleh buat. Nelayan Papela adalah orang Bajo yang menganggap laut sebagai rumah bahkan dunia mereka. Lagipula bukanlah sejak ratusan tahun lalu nenek moyang mereka telah mencari ikan di kawasan Pulau Pasir. Apalagi, ikan di daerah itu cukup banyak dan beragam.

“Kalau sudah menyangkut perut, mau dipenjara atau tidak, mereka tetap berlayar. Apalagi mereka tidak mengenal daerah continental (daratan). Terjang bahaya karena lapar, kalau kenyang ngapain. Lagian daerah Pulau Pasir sudah seperti hak ulayat masyarakat nelayan di pulau Rote,” ujar Bupati Rote Ndao Leonard Haning menjelaskan adat kebiasaan kelompok masyarakat yang dipimpinnya ini. [guh]

  • TAGS

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA