Ijazah SMA Gibran memang tidak ada, karena kuliah di luar negeri. Tapi itu bukanlah alasan sebuah pemaafan.
Sebab, UU Pemilu memang mewajibkan itu. Apalagi, kalau terbukti adanya pasal selundupan di DPR, yang diistilahkan meng-Gibran itu.
Itulah kesimpulan yang bisa diambil dari talkshow Madilog Forum Keadilan dengan narasumber Rizal Nova Mujahid, Lead Analyst Drone Emprit, yang hari-hari mengamati percakapan di media sosial, bersama host jurnalis senior Margi Syarif, baru-baru ini.
Dua kata yang bisa mewakili kesimpulan talkshow itu adalah publik merasa marah dan tertipu dengan ijazah gate itu.
Dibohongi sekali terkait perubahan syarat usia di Pilpres masih bisa dimaafkan, tapi dibohongi lagi terkait syarat ijazah SMA lewat Surat Keterangan itu, jadi tak termaafkan dan memicu rasa marah dan tertipu publik, semakin memuncak.
Ijazahnya tak ditemukan, bukan berarti tak ada, seperti yang dikatakan loyalis Jokowi di media, tidak bisa menandingi putusan MK.
Hancurnya reputasi pribadi dan politik Jokowi karena bertemunya cap pembohong yang selama ini melekat pada karakter kepemimpinan Jokowi dengan ijazah gate Gibran itu.
Selama ini, orang tidak terlalu peduli dengan cap pembohong yang melekat pada Jokowi, akan tapi karena kasus ijazah gate ini, cap itu seperti terkonfirmasi tidak dibuat-buat.
Cap pembohong yang melekat pada karakter kepemimpinan Jokowi dianggap hanya disuarakan pembenci Jokowi saja selama ini.
Tapi dengan adanya ijazah gate Gibran itu, apalagi ditambah putusan MK, anggapan itu dianggap benar.
Karena itu, ijazah gate ini dianggap bisa menghancurkan tidak saja reputasi pribadi Jokowi, tapi juga reputasi politik Jokowi ke depan. Makanya, ijazah gate ini memang tak bisa dianggap enteng oleh Jokowi.
Rizal Nova Mujahid, Lead Analyst Drone Emprit, juga menangkap kemuakan publik juga saat Wapres Gibran disamakan dengan Bung Hatta dan BJ Habibie yang kuliah di luar negeri.
Bung Hatta dan BJ Habibie yang kuliah di luar negeri tak bisa disamakan dengan Gibran, yang bolak-balik sekolah di Singapura, Australia, dan Singapura lagi, tanpa kejelasan selesai atau tidak seperti Bung Hatta dan BJ Habibie.
Ijazah Bung Hatta itu dipamerkan dengan bangga, Gibran tidak demikian.
Jadi, jangan samakan antara Gibran dengan Bung Hatta dan BJ Habibie. Apalagi seperti yang dikatakan dulu oleh Ade Armando bahwa Gibran adalah Wapres terbaik sepanjang sejarah.
Saya juga pernah mengomentari pernyataan Ade Armando itu, bahwa Ade Armando salah, karena harusnya dikatakan bahwa Gibran adalah Wapres terbaik bukan hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia. Ade tanggung memuji Gibran.
ErizalDirektur ABC Riset & Consulting
BERITA TERKAIT: