Penjarahan dan Keruntuhan Kota Roma, 410 M

Senin, 10 Agustus 2026, 03:16 WIB
Penjarahan dan Keruntuhan Kota Roma, 410 M
Ilustrasi keruntuhan Kota Roma. (Foto: Istimewa)
Kecil Besar
PADA malam tanggal 24 Agustus 410 M, Kota Roma yang telah bertahan selama delapan abad pecah berkeping-keping. Pasukan Visigoth, di bawah komando Raja Alaric, berhasil menembus Gerbang Salaria (Porta Salaria) dan menjarah kota Roma hingga ludes.

Peristiwa ini menandai pertama kalinya Roma jatuh ke tangan musuh asing sejak serangan bangsa Gauls di bawah pimpinan Brennus pada tahun 390 SM. Kejatuhan Roma adalah guncangan hebat, sebuah patahan sejarah (watershed moment) yang meruntuhkan stabilitas seluruh peradaban Barat.

Untuk memahami dampak psikologis ini, kita harus membedakan antara fungsi Roma sebagai pusat pemerintahan dan fungsinya sebagai simbol kebudayaan. Pada tahun 410 M, Roma bukan lagi ibu kota administratif Kekaisaran Romawi Barat. Status tersebut telah dipindahkan ke Mediolanum (Milan) dan kemudian ke Ravenna.

Namun, dalam ruang kesadaran kolektif masyarakat Barat saat itu, Roma tetaplah Urbs Aeterna atau Kota Abadi. Ia dipandang sebagai ruang sakral yang tak tertundukkan, sebuah poros dunia (axis mundi) yang takdirnya ditentukan oleh keberlangsungan peradaban itu sendiri.

Ketika tembok kota yang kokoh gagal membendung laju bangsa barbar, kepercayaan tentang keabadian kekaisaran hancur seketika.

Geopolitik Abad ke-5

Kejatuhan Roma merupakan akibat dari pembusukan struktural jangka panjang yang menjangkiti Kekaisaran Romawi Barat sejak akhir abad ke-3. Pembagian kekaisaran menjadi wilayah Timur dan Barat oleh Diokletianus menciptakan disparitas ekonomi yang timpang.

Wilayah Timur, dengan jalur perdagangan yang kaya di Asia Kecil dan Mesir, jauh lebih makmur dan padat penduduk. Sebaliknya, wilayah Barat menanggung beban pertahanan perbatasan yang luar biasa besar di sepanjang Sungai Rhine dan Danube. Namun pada saat yang sama, basis pajak terus menyusut akibat korupsi sistemik dan penguasaan tanah oleh kaum oligarki senator.

Kondisi ekonomi yang rapuh ini diperparah oleh tekanan demografis di luar perbatasan. Migrasi besar bangsa Hun dari Asia Tengah memicu efek domino yang memaksa suku-suku Jermanik, termasuk Visigoth, menyeberangi perbatasan Romawi untuk mencari perlindungan. 

Kegagalan Romawi dalam mengintegrasikan para pengungsi ini secara manusiawi—yang berpuncak pada Pertempuran Adrianopel tahun 378 M di mana Kaisar Valens tewas—menciptakan bom waktu di dalam tubuh kekaisaran.

Visigoth berubah dari kelompok pengungsi yang mencari tanah pertanian menjadi kekuatan militer pengembara yang terorganisir dengan baik, lapar, dan sangat mengenal kelemahan taktis legiun Romawi.

Faktor penentu yang mempercepat bencana tahun 410 M adalah krisis kepemimpinan di tingkat tertinggi militer Romawi.

Sosok tunggal yang berdiri di antara Alaric dan ambisinya menguasai Italia adalah Flavius Stilicho, seorang jenderal jenius keturunan Vandal-Romawi. Stilicho memegang jabatan Magister Militum (Panglima Tertinggi) dan bertindak sebagai wali dari Kaisar Honorius yang masih muda dan tidak cakap.

Stilicho memahami bahwa kekaisaran tidak lagi memiliki sumber daya manusia yang cukup untuk menghancurkan Visigoth secara militer, sehingga ia menerapkan strategi hibrida, yaitu menahan Alaric di medan perang sekaligus menggunakan diplomasi untuk menjadikannya sekutu (foederati).

Namun, keberhasilan Stilicho memicu kecemburuan dan kecurigaan di kalangan faksi anti-barbar di istana kekaisaran Ravenna dan senat Roma. Mereka menuduh Stilicho bersekongkol dengan Alaric untuk merebut takhta. Pada bulan Agustus 408 M, pengaruh politik Stilicho runtuh; ia ditangkap dan dieksekusi atas perintah Kaisar Honorius.

Kematian Stilicho adalah kesalahan strategis terbesar dalam sejarah Romawi Barat. Dengan melenyapkan Stilicho, istana Ravenna tidak hanya kehilangan pemikir militer terbaiknya, tetapi juga menghancurkan saluran komunikasi diplomatik dengan Alaric, yang kini melihat tidak ada lagi alasan untuk menahan diri dari tindakan agresif.

Segera setelah eksekusi Stilicho, gelombang xenofobia melanda kota-kota Romawi. Terprovokasi oleh retorika ultra-nasionalis faksi istana, prajurit-prajurit reguler Romawi melakukan pembantaian massal terhadap istri dan anak-anak dari tentara bayaran barbar yang sedang bertugas di garnisun-garnisun Romawi.

Tindakan brutal ini memicu reaksi berantai yang berbalik menghancurkan pertahanan kekaisaran.

Sebanyak 30.000 prajurit barbar yang awalnya mengabdi dan setia pada Roma memilih membelot demi menyelamatkan diri dan menuntut balas dendam. Mereka berbaris meninggalkan pos-pos mereka dan langsung bergabung ke dalam kamp militer Alaric. Gelombang pembelotan ini mengubah keseimbangan kekuatan.

Alaric, yang sebelumnya hanya memimpin pasukan yang kelelahan dan mencari kompromi, tiba-tiba mendapatkan tambahan modal pasukan tempur yang sangat terlatih, penuh amarah, dan memiliki pengetahuan mendalam tentang topografi serta titik-titik lemah pertahanan Romawi.

Tiga Blokade Alaric

Berbeda dengan stereotipe umum yang menggambarkan bangsa barbar sebagai gerombolan liar yang langsung menyerang tembok kota, Alaric menerapkan strategi militer yang sangat sabar dan taktis. Ia menyadari bahwa tembok Aurelianus yang mengelilingi Roma terlalu tebal untuk dihancurkan tanpa peralatan pengepungan yang berat.

Oleh karena itu, ia memilih untuk mencekik kota dari luar melalui taktik blokade logistik yang dilakukan dalam tiga gelombang terpisah antara tahun 408 hingga 410 M.

Alaric memutus jalur Sungai Tiber dan menduduki Portus, pelabuhan utama di muara sungai yang mengontrol seluruh pasokan gandum dari Afrika Utara ke Roma. Strategi ini berhasil mengubah Kota Abadi menjadi penjara raksasa. Tanpa pasokan pangan, kondisi di dalam kota memburuk ke titik terendah.

Penyakit pes dan tifus menyebar dengan cepat akibat tumpukan mayat yang tidak terkubur di jalanan. Catatan dari sejarawan seperti Zosimus mengungkapkan bahwa kelaparan begitu ekstrem hingga struktur sosial runtuh sepenuhnya, memicu terjadinya praktik kanibalisme sembunyi-sembunyi di antara penduduk yang putus asa.

Setelah bertahan melewati penderitaan blokade yang panjang, akhir dari ketahanan Roma ditentukan bukan oleh kehancuran temboknya akibat hantaman artileri, melainkan oleh keretakan sosial di dalam internal kota itu sendiri.

Pada malam tanggal 24 Agustus 410 M, Gerbang Salaria, yang terletak di timur laut kota, dibuka secara paksa dari dalam. Hingga dewasa ini, penyebab pasti dari terbukanya gerbang ini tetap menjadi topik perdebatan hangat di kalangan sejarawan.

Ada dua teori utama yang berkembang. Teori pertama, yang didukung oleh sejarawan Prokopius, mengatakan bahwa seorang wanita bangsawan kaya bernama Proba memerintahkan budak-budaknya untuk membuka gerbang karena ia tidak tahan lagi melihat penderitaan rakyat jelata yang mati kelaparan. Ia berpikir bahwa penjarahan cepat jauh lebih baik daripada kematian perlahan akibat kelaparan.

Teori kedua, di lain pihak, mengatakan para budak yang ada di dalam kota, yang menderita di bawah tirani penguasa Romawi, melakukan pemberontakan internal dan membuka gerbang sebagai bentuk balas dendam lalu bersekutu dengan pasukan Alaric.

Apa pun motifnya, yang jelas terbukanya gerbang tersebut menandai runtuhnya benteng fisik terakhir kota Roma.

Penjarahan Alaric

Ketika pasukan Visigoth merangsek masuk melalui Gerbang Salaria, dimulailah tiga hari penjarahan yang sistematis. Secara ekonomi, kota Roma dikuras habis dari kekayaan materialnya.

Alaric dan pasukannya menyita berton-ton emas dan perak dari istana para senator, menyita perhiasan, kain sutera yang sangat berharga, serta pasokan lada—komoditas mewah yang bernilai setara dengan emas pada masa itu. Kompleks bangunan megah seperti Forum Romawi dirusak, sementara kediaman para elit di Bukit Aventinus dijarah dan dibakar.

Namun, esensi dari penjarahan ini jauh dari kehancuran total. Alaric dan mayoritas suku Visigoth telah terkristenkan, menganut teologi aliran Arianisme. Hal ini menciptakan dinamika yang unik dalam sejarah penaklukan militer. Alaric mengeluarkan perintah tegas kepada pasukannya untuk tidak menyentuh tempat ibadah Kristen.

Basilika Santo Petrus dan Basilika Santo Paulus dinyatakan sebagai wilayah perlindungan suci (sanctuary). Siapa pun, baik pemeluk Kristen maupun pagan, yang berlindung di dalam bangunan-bangunan tersebut dijamin keselamatan jiwanya. Peristiwa ini menunjukkan bahwa di tengah kekacauan militer pun terdapat batas-batas religius yang tetap dihormati.

Selain mengumpulkan harta benda, Alaric juga menawan Galla Placidia, adik perempuan Kaisar Honorius, sebuah langkah taktis yang menjadikannya bidak catur politik berharga tinggi dalam negosiasi dengan istana Ravenna di kemudian hari.

Sementara Roma mengalami penjarahan hebat, di manakah Kaisar Honorius dan aparat pemerintahannya? Mereka aman di Ravenna.

Terletak di pantai timur laut Romawi, Ravenna adalah sebuah benteng alami yang ideal. Ravenna dikelilingi oleh rawa-rawa yang mustahil dilewati oleh kavaleri atau infanteri berat barbar dan memiliki akses langsung ke Laut Adriatik. Ini memungkinkan pasokan logistik atau evakuasi lewat jalur laut dari dan ke Kekaisaran Romawi Timur di Konstantinopel.

Sebuah cerita terkenal yang dicatat oleh Prokopius mengilustrasikan bagaimana jauhnya jarak psikologis istana Ravenna dengan kota Roma. Ketika seorang pembantu istana berlari menghadap Kaisar Honorius untuk mengabarkan bahwa "Roma telah binasa", kaisar terkejut dan menangis, mengira bahwa ayam jantan peliharaan kesayangannya yang bernama "Roma" telah mati.

Ketika sang pembantu menjelaskan bahwa yang hancur adalah kota Roma, Honorius menarik napas lega dan berkata, "Kira saya ayam saya yang mati." Terlepas dari kebenaran cerita ini, kisah tersebut menangkap realitas politik yang getir. Bagi elit penguasa di Ravenna, kelangsungan hidup dinasti jauh lebih penting daripada nasib Roma, sang Kota Abadi.

Karena pusat hukum dan pemerintahan berada di Ravenna, Kekaisaran Romawi Barat secara legal tetap ada. Kota Roma sendiri mulai dibersihkan dan dipulihkan kembali hanya beberapa pekan setelah kepergian Visigoth.

Pagan versus Kristen

Dampak terdalam dari tragedi tahun 410 M ini tercatat dalam lembaran-lembaran karya sastra dan sejarah, juga dalam dokumen perdebatan teologis di seluruh wilayah Mediterania. Kejatuhan kota Roma memicu perang ideologi yang sengit antara kaum pagan kuno dengan penganut agama Kristen yang sedang tumbuh.

Kelompok aristokrat pagan, yang masih memegang pengaruh kuat di senat, segera meluncurkan propaganda budaya. Mereka mengatakan bencana ini adalah bentuk murka Tuhan. Kata mereka, Roma jatuh karena telah mengabaikan ritual-ritual kuno dan mencampakkan dewa-dewa tradisional -- seperti Yupiter, Mars, dan Viktoria -- yang telah melindungi kota itu selama seribu tahun dan membawanya ke puncak imperium dunia.

Tuduhan ini menempatkan penganut Kristen dalam posisi dilematis dan sangat tertekan. Berita tentang kejatuhan ini memicu duka mendalam di seluruh dunia Kristen. Dari gua tempat pertapaannya di Betlehem, Santo Jeronimus menulis dengan penuh ratapan, "Suara saya tercekat... kota yang telah menaklukkan seluruh dunia kini telah ditaklukkan."

Kekristenan dituduh sebagai ajaran yang melemahkan nilai-nilai keprajuritan Romawi (virtus) dan bertanggung jawab atas disintegrasi moral kekaisaran. Itu sebabnya diperlukan jawaban intelektual yang serius untuk menyelamatkan legitimasi teologis kekristenan dalam sejarah dunia Barat.

Jawaban atas krisis ideologi tersebut datang dari Afrika Utara, di mana Santo Agustinus, Uskup dari Hippo, menghabiskan waktu selama 13 tahun untuk menulis karya teologis-filosofis terbesarnya, De Civitate Dei (Kota Tuhan). Dalam teks ini Agustinus membantah klaim kaum pagan.

Ia menunjukkan bahwa kota Roma telah berulang kali mengalami bencana militer dan moral jauh sebelum agama Kristen lahir. Lebih jauh lagi, Agustinus memperkenalkan filsafat sejarah baru yang memisahkan antara nasib institusi politik sekuler dan kehendak ilahi.

Agustinus membagi eksistensi manusia menjadi dua ranah. Pertama, Civitas Terrena (Kota Duniawi) diwakili oleh imperium seperti Roma, yang dibangun di atas cinta diri (amor sui), bersifat fana, penuh dengan dosa struktural, dan ditakdirkan untuk mengalami siklus kelahiran dan kematian.

Kedua, Civitas Dei (Kota Tuhan) diwakili oleh persekutuan spiritual orang-orang beriman, yang dibangun di atas cinta kepada Tuhan (amor Dei), bersifat abadi, dan tidak akan pernah hancur oleh runtuhnya imperium politik mana pun di atas bumi.

Melalui formulasi ini, Agustinus berhasil melepaskan ketergantungan masa depan kekristenan Barat dari nasib fisik Kekaisaran Romawi. Ketika Kekaisaran Romawi Barat akhirnya runtuh secara formal pada tahun 476 M dengan digulingkannya Romulus Augustulus oleh Odoaker, gereja Barat tidak ikut hancur.

Fondasi konseptual yang diletakkan pasca-peristiwa 410 M memungkinkan institusi spiritual ini bertahan, mengasimilasi suku-suku Jermanik, dan menjadi arsitek utama peradaban Eropa Abad Pertengahan.

Penjarahan Roma oleh Visigoth, dengan demikian, adalah akhir dari zaman kuno sekaligus bidan yang membantu lahirnya peradaban Barat yang baru.rmol news logo article

Buni Yani
Peneliti media, budaya, dan politik Asia Tenggara
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA