Dari Gurun ke Panggung Dunia: Revolusi Pariwisata Saudi

Rabu, 22 Juli 2026, 05:21 WIB
Dari Gurun ke Panggung Dunia: Revolusi Pariwisata Saudi
Ilustrasi. (Foto: megasyariah.co.id)
Kecil Besar
ARAB Saudi sedang menggelar transformasi ekonomi paling berani di abad ini. Jika selama puluhan tahun negeri ini identik dengan sumur minyak dan larangan hiburan, kini kerajaan di bawah kepemimpinan Putra Mahkota Mohammed bin Salman membalikkan narasi itu dengan gegap gempita. Fokusnya bukan lagi sekadar menambang emas hitam, melainkan membangun kerajaan wisata yang mampu mendatangkan 150 juta kunjungan wisatawan per tahun pada 2030. Target itu bukan isapan jempol; angka tersebut lebih dari dua kali lipat jumlah turis yang datang ke Turki atau Thailand saat ini.

Di balik target ambisius itu, ada target finansial yang jauh lebih strategis: membawa kontribusi pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) non-migas dari yang semula hanya 3 persen menjadi 10 persen, serta menciptakan 1,5 juta lapangan kerja baru. Ini bukan sekadar diversifikasi ekonomi, tetapi upaya eksistensial Saudi untuk bertahan di era transisi energi global. Data terbaru dari Kementerian Pariwisata Saudi per Maret 2025 menunjukkan bahwa mereka telah mencapai 92 juta kunjungan wisatawan pada akhir 2024--jauh melampaui target awal 70 juta. Pertumbuhan kunjungan domestik dan internasional tercatat melonjak 22 persen secara year-on-year pada semester pertama 2025. 

Namun, ada catatan kritis di balik angka itu: pengeluaran rata-rata per wisatawan asing baru menyentuh 200 Dolar AS per hari, masih jauh di bawah UEA yang mencapai 350 Dolar AS, yang artinya mereka masih mengandalkan kuantitas, bukan kualitas daya beli.

Untuk mengejar target itu, Saudi tidak hanya membuka pintu lebar-lebar. Mereka melakukan revolusi legislasi yang memukau dunia, seperti peluncuran e-visa untuk 63 negara kini, serta pelonggaran aturan sosial yang selama ini menjadi tembok penghalang bagi wisatawan Barat. Kebijakan yang memungkinkan perempuan mengemudi dan bepergian tanpa mahram telah mengubah persepsi global. 

Di sisi hulu, Dana Investasi Publik (Public Investment Fund) dengan aset lebih dari 925 miliar Dolar AS (berdasarkan laporan 2025) dikerahkan menjadi mesin utama pembangunan. Megaproyek seperti NEOM dengan kota futuristik The Line, kawasan resor mewah Red Sea Project yang telah mulai menerima wisatawan per April 2025 dengan 3 resort bintang lima, hingga revitalisasi kawasan sejarah Diriyah Gate dibangun bukan hanya sebagai infrastruktur, tetapi sebagai statement kekuatan.

Peta eksekusi proyek raksasa ini dirancang seperti komando militer, namun digerakkan dengan kecepatan ala Silicon Valley. Puncak piramida manajerial berada di tangan Dewan Ekonomi dan Pembangunan (CEDA) yang langsung dipimpin oleh Putra Mahkota, memberikan sinyal kuat bahwa semua program adalah prioritas nasional mutlak. Di bawahnya, Kementerian Pariwisata bertindak sebagai regulator, sementara PIF bertindak sebagai pengembang utama, bukan sekadar investor pasif. 

Sementara itu, Otoritas Pariwisata Saudi (STA) bertugas menjalankan operasi promosi global, dan di lapisan terbawah, operator internasional seperti Marriott dan Accor dikontrak untuk mengelola standar pelayanan. Kecepatan eksekusi dan kepastian izin menjadi keunggulan utama struktur ini; hotel dan bandara bisa dibangun dalam hitungan bulan, bukan tahun seperti di banyak negara demokrasi.

Namun, analisis kritis menyoroti bahwa piramida manajerial yang sangat sentralistik ini memiliki titik lemah yang menganga. Budaya pelayanan publik Saudi masih terbiasa dengan model ekonomi "pemberian negara" (rentier state), bukan kompetisi pasar yang gesit. Akibatnya, ketika gedung megah sudah berdiri, kualitas pelayanan kerap tertinggal. Masalah ini diperparah oleh ketergantungan pada tenaga kerja asing. Data dari Kementerian Sumber Daya Manusia Saudi per Juni 2025 mencatat bahwa 67 persen tenaga kerja di sektor perhotelan masih berasal dari luar negeri. Program Saudization atau mempekerjakan tenaga lokal kerap menemui jalan buntu karena tuntutan gaji yang tinggi tak sebanding dengan produktivitas, sehingga hotel-hotel mewah terpaksa mendatangkan pekerja dari Filipina, India, atau Indonesia.

Di sisi lain, ada kekhawatiran mendasar bahwa wisatawan global datang hanya untuk "membeli sensasi" alih-alih "mendapatkan pengalaman budaya". Riyadh Season yang memanfaatkan konser bintang dunia sukses menarik pengunjung, tetapi wisatawan itu pulang tanpa membawa cerita tentang otentisitas budaya Arab atau sejarah Islam yang mendalam. 

Saudi berambisi menjadi "Las Vegas tanpa alkohol", tetapi tren wisata global saat ini justru berbalik arah menuju wisata berbasis komunitas dan keberlanjutan--sesuatu yang masih jauh dari karakter mega-proyek Saudi. Laporan terbaru World Travel & Tourism Council (WTTC) 2025 menyebutkan bahwa indeks keberlanjutan wisata Saudi baru berada di peringkat 38 dunia, tertinggal dari Thailand (11) dan UEA (15).

Bahkan faktor reputasi global masih menjadi batu sandungan besar. Meskipun terjadi reformasi sosial yang dramatis, catatan hak asasi manusia, termasuk penangkapan aktivis dan pembatasan kebebasan berekspresi, membuat banyak agen perjalanan dari Amerika Serikat dan Eropa menahan diri. Survei dari Skift Research pada April 2025 menunjukkan bahwa tingkat keengganan turis Barat untuk mengunjungi Saudi meningkat menjadi 19 persen, khususnya untuk perjalanan keluarga. Ini menjadi ironi: pintu sudah terbuka, tetapi rasa percaya belum sepenuhnya pulih.

Untuk mengatasi kebuntuan ini, langkah konstruktif yang perlu diambil Saudi adalah mengubah strategi dari "gedung megah" menjadi "manusia hebat". Bukan hanya mengundang manajer hotel asing, mereka perlu menciptakan visa jangka panjang khusus bagi pelaku industri kreatif global--jurnalis, koki, atau seniman--agar mereka menetap dan membangun ekosistem budaya yang hidup di jalanan, bukan hanya di arena konser. Pemerintah juga harus berani memodifikasi skema Saudization dengan memberikan subsidi upah bagi karyawan lokal yang telah lulus sertifikasi global, sehingga beban biaya operasional hotel tidak membengkak.

Jangan pula melupakan strategi pengendalian pasokan. Berdasarkan data STR Global edisi Juli 2025, okupansi hotel di Jeddah dan Riyadh di luar musim haji rata-rata hanya 56 persen--turun 2 persen dari tahun lalu karena tambahan 12.000 kamar baru yang belum terserap. Membangun ribuan kamar baru tanpa keseimbangan permintaan hanya akan menciptakan gedung-gedung kosong yang menggerogoti investasi. Saudi perlu memperlambat pembangunan oversupply dan lebih fokus pada promosi wisata alternatif di kawasan seperti AlUla, yang menawarkan pesona arkeologi dan langit malam yang tak dimiliki oleh anyaman beton kota metropolitan.

Revolusi pariwisata Saudi adalah misi yang secara kuantitatif sangat mungkin tercapai berkat kekuatan finansial yang tak terbatas dan sistem kepemimpinan yang tak kenal kompromi. Proyeksi WTTC 2025 bahkan menaikkan prediksi kontribusi pariwisata Saudi terhadap PDB menjadi 11,8 persen pada 2030--jika tingkat okupansi dan pengeluaran wisatawan bisa dinaikkan dalam 5 tahun ke depan. Namun, untuk meraih kualitas yang sejati dan disambut dunia secara tulus, Saudi harus berani melepas kendali sentralistiknya. Jika mereka hanya mengejar angka 150 juta turis dengan potongan harga diskon musiman, geliat pariwisata itu akan memudar seiring waktu. Tetapi jika mereka mampu membangun narasi budaya yang jujur, ramah, dan autentik, Saudi tidak hanya akan menjadi tuan rumah dunia, tetapi juga jantung baru bagi peradaban global yang lebih inklusif. Wallahua'lam. rmol news logo article

Ahmad Dumyathi Bashori
Dosen Senior Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA