Namun kemungkinan itu tidak pernah memberi kepastian. Satu pengeboran dapat menghabiskan ratusan juta dolar. Bertahun-tahun kerja keras dapat berakhir tanpa setetes minyak.
Di wajah para geolog, para insinyur, dan para pekerja lapangan, selalu hidup dua emosi sekaligus: harapan yang besar dan keberanian menghadapi kegagalan. Dari ruang sunyi seperti itulah, sejarah energi dunia sering kali dimulai.
Setiap ulang tahun Pertamina Hulu Energi, kita perlu menguji diri dengan satu pertanyaan yang sederhana tetapi menentukan: PHE ini akan kita bawa ke mana?
Bukan sekadar tahun depan. Bukan pula hanya sampai akhir Rencana Jangka Panjang Perusahaan. Melainkan sepuluh tahun ke depan. Lima belas tahun ke depan. Dua puluh tahun ke depan.
Perusahaan besar tidak dibedakan oleh laba satu kuartal. Ia dikenang karena arah sejarah yang dipilihnya.
Untuk menjawab pertanyaan itu, kita dapat mengambil inspirasi sebuah studi kasus. Sebuah kisah nyata yang membuktikan bahwa satu penemuan ladang minyak raksasa tidak hanya mengubah sebuah perusahaan energi. Ia mampu mengubah nasib sebuah bangsa.
Sebagian dari kisah ini didapat dari buku The New Guyana: Leadership, Oil, and the Future of a New Petrostate karya Raymond Ramcharitar, 2024.
Buku ini menjelaskan bagaimana Guyana mengalami transformasi yang hampir tidak pernah terjadi dalam sejarah modern. Selama puluhan tahun, Guyana dikenal sebagai salah satu negara termiskin di Amerika Selatan dengan pertumbuhan ekonomi yang relatif rendah, berkisar dua hingga lima persen per tahun.
Segalanya berubah ketika pada tahun 2015 ditemukan cadangan minyak raksasa di Blok Stabroek oleh konsorsium yang dipimpin ExxonMobil. Hingga kini, estimasi sumber daya yang ditemukan telah melampaui sebelas miliar barel oil equivalent. Penemuan tersebut mengubah seluruh fondasi ekonomi Guyana.
Investasi mengalir, lapangan kerja meningkat, penerimaan negara melonjak. Sejak awal dekade 2020-an, Guyana mencatat salah satu tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia, menjelma dari negara pinggiran menjadi laboratorium ekonomi yang diperhatikan banyak lembaga internasional.
Namun buku itu juga mengingatkan: kekayaan alam hanya menjadi berkah apabila disertai tata kelola yang baik, transparansi, dan kepemimpinan yang visioner. Tanpa institusi yang kuat, minyak dapat berubah menjadi kutukan. Dengan institusi yang sehat, minyak menjadi modal untuk membangun masa depan lintas generasi.
Guyana mengajarkan satu pelajaran yang sangat penting. Yang mengubah negara itu bukan sekadar minyak. Yang mengubah Guyana adalah Great Discovery.
Satu penemuan besar yang mengubah cara sebuah bangsa memandang masa depannya. Dulu, banyak anak muda Guyana bermimpi bekerja di luar negeri. Kini, industri energi dunia datang ke Guyana.
Dulu, negara itu lebih sering disebut dalam statistik kemiskinan. Kini, ia menjadi salah satu laboratorium ekonomi paling menarik di dunia.
Satu penemuan mengubah bukan hanya angka pertumbuhan ekonomi. Ia mengubah rasa percaya diri sebuah bangsa.
Dahulu, banyak anak Guyana pergi meninggalkan tanah air karena merasa negeri mereka tak memiliki masa depan. Setelah Great Discovery, keadaan berbalik. Anak-anak muda mulai pulang. Universitas membuka jurusan baru. Pelabuhan yang dulu sepi dipenuhi kapal-kapal industri energi.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern mereka, masa depan tidak lagi dicari di negeri orang, tetapi dibangun di tanah sendiri.
Namun di balik kisah keberhasilan itu, Guyana juga bergulat dengan pertanyaan yang sama yang akan kita hadapi: Bagaimana memastikan bahwa Great Discovery tidak hanya menguntungkan segelintir, tetapi menjadi berkah bagi jutaan? Bagaimana menghindari jebakan “boom hari ini, krisis esok hari”?
Great Discovery bukan sekadar titik pada peta geologi. Ia adalah titik balik dalam sejarah suatu bangsa.
Guyana menunjukkan bahwa momentum sejarah tidak pernah netral; ia selalu dimenangkan oleh mereka yang paling siap secara institusional, intelektual, dan moral.
Great Discovery hanya menjadi berkah ketika ditopang oleh kebijakan fiskal yang cerdas, kapasitas birokrasi yang profesional, serta budaya publik yang berani mengawasi kekuasaan.
Tanpa tiga pilar itu, ladang minyak raksasa hanya memperbesar ketimpangan dan konflik.
Dalam buku The Prize: The Epic Quest for Oil, Money, and Power (1991), Daniel Yergin memperlihatkan bahwa sejarah minyak sesungguhnya adalah sejarah keberanian mengambil risiko.
Hampir semua penemuan ladang minyak terbesar di dunia lahir setelah rentetan panjang kegagalan eksplorasi. Para geolog terus mengebor walaupun peluang berhasil sering kali jauh lebih kecil daripada peluang gagal.
Buku ini menunjukkan bahwa perusahaan energi yang menjadi pemimpin dunia bukanlah perusahaan yang tidak pernah gagal, melainkan perusahaan yang mampu belajar lebih cepat dari setiap kegagalan.
Yergin juga menjelaskan bahwa energi selalu menentukan arah geopolitik, pertumbuhan ekonomi, dan kekuatan nasional. Negara yang mampu menemukan sumber energi baru memperoleh ruang yang lebih besar untuk menentukan masa depannya sendiri.
Karena itu eksplorasi bukan sekadar aktivitas bisnis. Ia merupakan investasi strategis bagi kedaulatan suatu bangsa. Dalam setiap penemuan besar selalu terdapat kombinasi ilmu pengetahuan, teknologi, keberanian, disiplin, dan kesabaran yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Namun, keberanian di era modern tidak boleh menjadi kecerobohan. Bagi BUMN seperti Pertamina, setiap dolar yang tertanam di bawah tanah adalah amanah rakyat.
Oleh karena itu, romantisasi risiko eksplorasi harus dimitigasi melalui penguatan corporate governance yang rigid dan transparansi hukum.
Kedaulatan energi hanya akan tegak jika keberanian para geolog di lapangan bersanding harmonis dengan akuntabilitas tata kelola keuangan yang bersih.
Inilah tantangan Pertamina Hulu Energi: bagaimana kita melahirkan Great Discovery Indonesia.
Saya optimis. Bukan karena optimisme kosong. Tetapi karena data yang kita miliki memberi alasan untuk berharap.
Pertama, Indonesia memiliki sekitar 128 cekungan sedimen yang membentang dari Aceh hingga Papua. Sebagian besar bahkan belum dieksplorasi secara optimal.
Guyana mengalami transformasi hanya dari satu cekungan utama. Indonesia memiliki potensi geologi yang jauh lebih luas.
Kedua, dalam beberapa tahun terakhir sudah muncul sinyal yang menggembirakan. Penemuan penting di Kutai Basin oleh Eni menunjukkan masih besarnya potensi Kalimantan Timur.
Di sisi lain, keberhasilan eksplorasi Andaman oleh Mubadala Energy membuka harapan baru di wilayah barat Indonesia.
Jika digabungkan, kedua kawasan tersebut telah menunjukkan potensi lebih dari tiga miliar barel oil equivalent. Memang masih berada di bawah Guyana yang telah melampaui sebelas miliar barel oil equivalent. Namun angka itu baru berasal dari sebagian kecil dari 128 cekungan yang kita miliki.
Ketiga, Indonesia memiliki keragaman sistem batuan geologi yang sangat kaya. Ini memberi peluang bukan hanya bagi minyak konvensional, tetapi juga minyak nonkonvensional, gas alam, laut dalam, serta natural hydrogen yang mulai menjadi perhatian dunia sebagai sumber energi masa depan.
Harapan kita bukanlah mimpi. Harapan kita bertumpu pada ilmu pengetahuan, pada data bawah permukaan yang semakin tajam, dan pada keberanian membaca sinyal yang kadang samar.
Tentu ada pandangan lain. Sebagian orang bertanya, apakah masih relevan mencari minyak besar ketika dunia sedang bergerak menuju energi hijau?
Kita tidak boleh menutup mata terhadap paradoks yang menyertai setiap sumur baru: antara kebutuhan energi hari ini dan tanggung jawab iklim esok hari.
Great Discovery yang kita cari bukan hanya penemuan cadangan raksasa, melainkan juga penemuan cara baru mengelola kekayaan itu secara adil, berkelanjutan, dan berpihak pada generasi mendatang.
Pertanyaan itu layak dihormati. Transisi energi memang sedang berlangsung. Namun transisi bukan berarti penghentian secara mendadak.
Hampir seluruh proyeksi lembaga energi internasional menunjukkan bahwa minyak dan gas masih akan menjadi bagian penting dari bauran energi global selama beberapa dekade ke depan. Bahkan berbagai teknologi rendah karbon tetap membutuhkan pasokan energi yang stabil selama proses transisi berlangsung.
Karena itu, eksplorasi minyak hari ini bukan bertentangan dengan masa depan. Justru menjadi jembatan menuju masa depan yang lebih bersih.
Apalagi Indonesia juga memiliki peluang mengembangkan portofolio energi baru secara bersamaan: panas bumi, surya, angin, bioenergi, hingga hidrogen hijau. Bukan memilih salah satu, melainkan membangun semuanya secara cerdas. Ini yang sekarang menjadi tren: Diversifikasi Energi.
Great Discovery Indonesia tidak harus dimaknai sebagai satu sumur saja. Ia dapat berupa kombinasi: penemuan cadangan besar, loncatan teknologi, dan tata kelola yang membuat kekayaan alam menjadi berkah lintas generasi.
Dalam perjalanan saya mengunjungi berbagai konferensi minyak internasional, saya selalu menemukan satu kesan yang sama.
Pahlawan terbesar perusahaan ini sering kali bukan mereka yang berbicara di atas panggung, melainkan mereka yang bekerja dalam senyap.
Mereka yang menghabiskan malam membaca data seismik. Mereka yang tetap berada di rig ketika ombak meninggi. Mereka yang mengambil keputusan sulit dengan risiko besar, tetapi tetap bertanggung jawab atas hasilnya.
Di berbagai konferensi internasional, saya sering melihat negara-negara lain mempresentasikan penemuan besar mereka. Setiap kali tepuk tangan memenuhi ruangan, saya selalu bertanya dalam hati: kapan giliran Indonesia?
Pertanyaan itu terus mengikuti saya pulang. Pertanyaan itulah yang harus menjadi renungan bersama.
Saya belajar bahwa keberanian di industri energi bukanlah keberanian yang gaduh. Ia justru hadir dalam ketekunan yang nyaris tidak terlihat.
Karena itu saya percaya, tugas seorang pemimpin bukan sekadar memberi perintah. Tugasnya adalah membangun ruang agar keberanian kolektif itu dapat tumbuh.
Kepada para eksekutor lapangan, teruslah berpikir melampaui kebiasaan. Teruslah berani keluar dari cara lama. Karena sejarah tidak pernah diubah oleh mereka yang hanya mengulang masa lalu.
Di atas semua itu, ada satu revolusi yang tidak boleh kita lewatkan: Artificial Intelligence. AI bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan mitra strategis dalam eksplorasi energi.
AI mampu mempercepat interpretasi data seismik, meningkatkan akurasi pemodelan reservoir, mengoptimalkan pengeboran, memprediksi kerusakan peralatan sebelum terjadi, hingga membantu menemukan pola geologi yang sebelumnya luput dari pengamatan manusia.
Tetapi AI hanya sekuat kualitas data dan keberanian kita untuk belajar dari insight yang kadang mengganggu kebiasaan lama. Di era ketika kecepatan belajar menentukan kemenangan, AI bukan pengganti para geolog dan insinyur, melainkan pengganda kecerdasan mereka.
Perusahaan energi yang paling cepat menguasai AI akan memiliki peluang terbesar menemukan Great Discovery berikutnya, bukan hanya di darat dan laut, tetapi juga di cara kita mengambil keputusan setiap hari.
Jabatan selalu memiliki batas waktu. Tetapi legacy tidak mengenal masa pensiun. Pada akhirnya, orang tidak akan mengingat berapa lama kita menduduki sebuah kursi.
Yang akan dikenang adalah apakah selama kita berada di sana, kita berhasil membuka jalan bagi generasi berikutnya.
Pertamina Hulu Energi memasuki usia sembilan belas tahun dengan satu komando besar yang tidak pernah berubah: mewujudkan kemandirian energi Indonesia.
Kita juga memiliki satu musuh bersama yang harus dikalahkan: ketergantungan pada impor minyak. Selama produksi nasional masih berada di bawah kebutuhan energi bangsa, setiap penemuan baru bukan sekadar keberhasilan bisnis, melainkan langkah nyata menuju kedaulatan, ketahanan, dan martabat Indonesia.
Semoga suatu hari nanti, ketika sejarah energi Indonesia ditulis kembali, generasi mendatang dapat berkata bahwa pada masa inilah lahir sebuah Great Discovery yang mengubah bukan hanya Pertamina Hulu Energi, tetapi juga masa depan Indonesia.
Karena warisan terbesar seorang pemimpin bukanlah jabatan yang pernah dipegangnya, melainkan harapan yang berhasil ia ubah menjadi kenyataan.
Dan bangsa besar tidak menunggu keajaiban ditemukan. Bangsa besar membangun keberanian untuk menemukannya.

Jakarta, 30 Juni 2026
Perluasan Orasi Denny JA selaku Komisaris Utama dalam Acara Syukuran 19 Tahun Pertamina Hulu Energi, 29 Juni 2026
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: