Diskursus perihal rencana akuisisi ini memanas dikaitkan dengan kompatibilitas dari kapasitas rudal tersebut dalam mendukung sistem pertahanan negara dengan segala kebutuhannya, serta situasi kondisi perekonomian nasional yang sedang tertekan dan ruang fiskal yang semakin sempit. Seberapa feasible sistem rudal supersonik milik India ini diakuisisi oleh Pemerintah Indonesia?
Rudal BrahMos diklaim sebagai rudal supersonik tercepat di dunia yang dikembangkan secara bersama oleh India dan Rusia. Spesifikasi rudal ini terbilang luar biasa, yakni kecepatan Mach 2,8--sekitar 3.400 kilometer/jam, daya jangkau mencapai 500 kilometer, serta mampu membawa hulu ledak konvensional dan nuklir dengan tonase sebesar 300 kilogram.
Keunggulan rudal ini terletak pada kemampuannya untuk terbang di ketinggian sangat rendah (sea-skimming) hingga 3-10 meter di atas permukaan laut, serta fleksibiltasnya untuk diluncurkan dari berbagai platform tempur seperti kapal perang, kapal selam, pesawat tempur, dan peluncur bergerak berbasis darat (Mobile Ground-Based Launcher). Dengan spesifikasi kelas wahid tersebut, BrahMos diyakini menjadi salah satu sistem senjata yang paling diperhitungkan dalam strategi pertahanan maritim modern.
Rudal BrahMos memiliki signifikansi penting bagi India dan Rusia selaku produsen. India melihat senjata yang dikembangkan secara bersama antara Defense Research and Development Organization (DRDO) India dan NPO Mashinostroyeniya Rusia ini sebagai wahana untuk mendukung kemandirian pertahanan dan penguatan posisi geopolitik melalui ekspor teknologi militer mutakhir. Filipina tercatat sebagai negara importir pertama yang membeli sistem rudal BrahMos untuk angkatan lautnya.
Sedangkan dari sisi Rusia, BrahMos menjadi sistem persenjataan masa depan yang dapat digunakan Rusia untuk menimbulkan efek gentar (detterence effect) di kawasan Eropa yang terhitung konfliktual bagi Rusia. Saat ini, termasuk dalam perang melawan Ukraina, Rusia tidak menggunakan rudal BrahMos karena telah memiliki rudal P-800 Oniks yang terhitung lebih cocok untuk keperluan perang gesekan (attrition war) yang berdurasi panjang.
Keunggulan Komparatif BrahMos
Keunggulan rudal BrahMos dari sisi fleksibilitas penggunaan, daya rusak, dan fungsionalisasi lainnya sejatinya sangat kompatibel dengan kebutuhan Indonesia. Indonesia adalah sebuah negara maritim dengan wilayah perairan laut dan garis pantai yang panjang, yang mana kontur geografis sedemikian membutuhkan sistem pertahanan negara berbasis maritim yang sangat kuat. Wilayah Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) yang luas juga memiliki fragilitas karena kerap menjadi jalur operasi para pelaku kejahatan transnasional seperti aksi bajak laut yang mengancam navigasi kapal-kapal dagang internasional, jalur masuk sindikat narkoba dan perdagangan orang, serta pembuangan limbah berbahaya oleh pihak asing.
Jika dikaitkan dengan situasi geopolitik, akuisisi rudal BrahMos juga sangat relevan untuk memperkuat daya tangkal, terutama di Laut Natuna Utara (LNU)--ZEE Indonesia, yang kerap dijadikan sasaran oleh kapal-kapal nelayan dan penjaga pantai Tiongkok dalam mengeruk sumber daya maritim nasional dengan dalih klaim sembilan garis putus-putus--terkait konflik Laut China Selatan (LCS).
Akuisisi rudal BrahMos juga diyakini dapat memperkuat sistem pertahanan maritim Indonesia yang bersifat Anti Access/Area Denial--strategi militer yang berfokus pada pencegahan dan membatasi musuh masuk ke wilayah pertahanan maritim. Dengan kecepatan tinggi dan daya jangkau yang luas, tembakan rudal buatan India-Rusia ini diyakini akan mampu menghancurkan kapal musuh sebelum masuk ke wilayah perairan. Kementerian Pertahanan RI (Kemenhan RI) selaku pihak yang akan mengakuisisi sudah membuat proyeksi sendiri dengan menempatkan sistem rudal supersonik ini untuk mendukung kemampuan pertahanan pantai Indonesia (coastal defense).
TNI sendiri sudah memiliki moda pertahanan yang memadai sebagai basis peluncur rudal dengan kepemilikan kapal-kapal kombatan utama kelas fregat, korvet, kapal patroli cepat, hingga kapal selam. Infrastruktur organisasional pun memadai dengan keberadaan Komando Armada dan Korps Marinir untuk pertahanan pangkalan dan operasi amfibi.
Kompatibilitas dari Sisi Pertahanan dan Finansial
Dengan berbagai kompatibilitas sedemikian, konklusi yang dapat ditarik adalah akuisisi rudal ini feasible dengan kebutuhan sistem pertahanan negara. Kendati demikian, persoalan akuisisi sistem persenjataan tidak bisa dilihat dari kacamata kebutuhan saja. Ada konsideran-konsideran lainnya yang harus diperhitungkan. Dan, persoalan yang tak kalah kritikal adalah daya beli dan postur fiskal Indonesia untuk mengakuisisi senjata tersebut.
Sorotan tajam terhadap proses pembelian ini adalah terkait dengan besaran harga akuisisi. Indonesia disebut harus mengeluarkan dana sebesar 450 juta Dolar AS, lebih tinggi dibandingkan dengan Filipina yang mengeluarkan anggaran sebesar 375 Dolar AS juta untuk mengakuisisi tiga sistem serupa pada 2022. Diskrepansi harga akuisisi ini menuntut pemerintah untuk berlaku transparan dan memberikan penjelasan terperinci untuk menjawab pertanyaan publik domestik.
Dalam menyikapi faktor-faktor yang mempengaruhi baik secara langsung atau tidak dalam proses akuisisi tersebut, pemerintah dalam hal ini Kemenhan RI, TNI, dan Kemenkeu RI perlu menyusun perencanaan yang bersifat strategis. Kesetimbangan antara keputusan dari sisi politis-pertahanan dan keputusan finansial harus berada pada posisi yang sepadan untuk mendapat manfaat yang lebih optimal dari pembelian yang dilakukan.
Dalam konteks ini, disarankan kepada pemerintah untuk melakukan proses demi kepentingan yang bersifat jangka panjang dengan memperhatikan aspek kesehatan fiskal nasional dan kesiapan pemerintah untuk memanfaatkan secara optimal sistem rudal yang akan dibeli nantinya. Dari sisi fiskal, pemerintah harus punya hitung-hitungan yang akurat. Besaran dana dan skema akuisisi yang disepakati jangan sampai mengganggu program prioritas lainnya yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak. Pemerintah dapat mengkaji opsi pemunduran proses akuisisi jikalau situasi dan kondisi ekonomi nasional hari ini belum suportif. Posisi nilai tukar Rupiah yang lemah terhadap Dolar AS perlu dijadikan pertimbangan utama dalam proses pembelian.
Manfaat dan Rencana Jangka Panjang
Dalam jangka panjang, rencana pembelian rudal supersonik ini dapat menjadi trigger bagi pemerintah untuk menaikkan secara bertahap besaran anggaran pertahanan nasional yang belum menyentuh angka ideal minimum essential forces, yakni pada rentang 1,5-2 persen GDP Indonesia. Dengan keluasan dari sisi anggaran pertahanan, akuisisi rudal BrahMos dan rudal-rudal lainnya di masa mendatang tidak akan menjadi isu besar yang diperdebatkan. Selain dari sisi finansial, pemerintah perlu menyigi secara serius kesiapan elemen pendukung.
Faktor alih teknologi, pendidikan dan latihan bagi para personel TNI dalam operasionalisasi ke depan, serta skema pemenuhan kebutuhan suku cadang harus menjadi bagian integral dari kesepakatan. Alih teknologi perlu dilakukan secara menyeluruh dari hulu ke hilir mulai dari penguasaan produk, pengetahuan spesifikasi tempur, pemeliharaan, serta teknik optimalisasi dalam penggunaan untuk kebutuhan perang. Sedangkan dari sisi personel, TNI harus membuat proyeksi seberapa besar jumlah prajurit yang akan mendapatkan pendidikan dan sistem transfer pengetahuan antar-matra di lingkup TNI.
Dengan memberikan atensi serius pada persoalan-persoalan mendasar tadi, kemungkinan akuisisi rudal BrahMos akan lebih besar terjadi. Situasi geopolitik yang konfliktual, atribut nasional sebagai negara maritim, serta pola kemitraan yang kuat antara Indonesia dengan India-Rusia di dalam blok ekonomi BRICS+ akan menjadi faktor-faktor pendukung yang akseleratif. Persoalannya mungkin hanya waktu.
Akuisisi rudal untuk keperluan pertahanan adalah hal yang penting. Namun, stabilitas ekonomi dengan postur fiskal yang kuat untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat, terutama urusan perut dan kebutuhan dasar lainnya merupakan hal-hal yang tampaknya lebih penting untuk saat ini.
Boy Anugerah, S.I.P., M.Si., M.P.P
Tenaga Ahli Bidang Hubungan Internasional, Geopolitik, dan ESDM di DPR RI & Founder Senayan Geopolitical Forum (SGF)
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: