Kepala Balai Pengendalian Karhutla Wilayah Kalimantan Yudo Shekti Mutiko mengatakan Manggala Agni tidak bisa diam ketika mendapat permintaan bantuan dari masyarakat yang khawatir api mendekati permukiman.
“Kadang-kadang kan sudah pulang dipanggil juga, apalagi ya kalau kebakaran itu sudah dekat-dekat pemukiman, kita dimintai bantuan, enggak mungkin kita diam saja,” ujar Yudo, kepada wartawan, Minggu, 11 Oktober 2026.
Yudo menceritakan salah satu kejadian ketika petugas baru selesai melakukan pemadaman pada malam hari. Setelah pulang dan hendak beristirahat, warga kembali meminta bantuan sehingga petugas turun lagi dan melakukan pemadaman hingga dini hari.
“Pulang pemadaman magrib lalu didatengin warga, akhirnya apa? Mereka pergi, enggak jadi istirahat, pergi padam sampai jam 01.00 malam. Terus tahu-tahu ada yang datang lagi minta bantuan lagi, jadi mereka enggak jadi pulang lagi, padam lagi sampai jam 05.00 subuh, baru pulang,” katanya.
Catatan pemadaman Manggala Agni di Kota Palangka Raya pada 8-9 Oktober 2026 menunjukkan petugas melakukan penanganan di sejumlah lokasi. Pada Kamis, 8 Oktober 2026, pemadaman di Jalan Mahir Mahar samping Green House berlangsung pukul 19.20-19.56 WIB.
Pada malam yang sama, petugas kembali melakukan pemadaman di Jalan Talawang, Kelurahan Panarung, Kecamatan Pahandut, mulai pukul 22.28 WIB hingga 01.00 WIB.
Pemadaman kemudian kembali dilakukan pada Jumat, 9 Oktober 2026 di Kelurahan Sabaru, Jalan Mahir Mahar. Petugas mulai melakukan pemadaman pukul 03.30 WIB dan selesai pada 05.34 WIB. Yudo menegaskan respons tersebut dilakukan ketika masyarakat membutuhkan bantuan untuk mencegah api mengancam permukiman.
“Kalau udah warga minta tolong sementara takut satu kampung kebakaran, jadi Manggala Agni turun langsung,” tandasnya.
BERITA TERKAIT: