“Pemadaman terus dilakukan. Apalagi juga Pak Menteri kan juga menugaskan kami untuk membentuk Masyarakat Peduli Api (MPA) dan juga melibatkan masyarakat itu di kegiatan-kegiatan pemadaman,” ujar Kepala Balai Pengendalian Karhutla Wilayah Kalimantan Yudo Shekti Mutiko, kepada wartawan, Minggu, 11 Oktober 2026.
Yudo mengatakan salah satu tantangan utama dalam pemadaman Karhutla adalah aksesibilitas. Tidak semua lokasi kebakaran mudah dijangkau, namun petugas tetap berupaya mencapai lokasi, termasuk melalui jalur air. Sementara itu, pemadaman udara juga tidak selalu dapat menjadi pilihan ketika kondisi tidak memungkinkan.
“Tantangan yang utama itu aksesibilitasnya luar biasa. Tidak semua bisa kita jangkau. Tapi biarpun sulit-sulitnya dijangkau, kita tetap berupaya. Mau lewat air kita kerjain juga,” katanya.
Selain akses, keterbatasan sumber air akibat musim kemarau juga menjadi tantangan. Untuk mengatasi kondisi tersebut, Manggala Agni
sejak awal mengembangkan sumur bor sebagai salah satu solusi pemadaman di lokasi yang sulit mendapatkan sumber air. Upaya serupa juga mulai dilakukan pemerintah daerah, BPBD, Dinas Kehutanan, Polri dan TNI.
Yudo menegaskan berbagai kendala tersebut tidak menghentikan upaya pemadaman. Petugas tetap bekerja, termasuk pada malam hari, untuk menangani Karhutla di lapangan.
“Kesulitan ada, tapi bukan berarti kita nggak berupaya ya, kita tetap lakukan terus. Terus teman-teman juga kayak jangankan siang, malam juga dikerjakan,” katanya.
Menurut Yudo, Manggala Agni akan tetap bertahan menjalankan tugas pemadaman meski menghadapi risiko keselamatan.
“Kalau yang lain mundur, Manggala Agni tetap bertahan biarpun ada risiko keselamatan. Tapi mereka tetap mengerjakan itu,” ujarnya.
BERITA TERKAIT: