Eddy menyampaikan bahwa selama lebih dari dua dekade berkecimpung di sektor energi, ia konsisten berpandangan bahwa pengembangan energi Indonesia harus bertumpu pada konsep ketahanan energi atau energy resilience.
“Seluruh kebijakan dan implementasi program energi nasional harus diarahkan pada kemampuan Indonesia memenuhi kebutuhan energinya, baik dari sumber dalam negeri maupun luar negeri,” kata Eddy dalam keterangan tertulis, Kamis 12 Februari 2026.
Eddy menyoroti bahwa Indonesia berada dalam paradoks di mana sebagai negara kaya sumber daya namun masih menghadapi tantangan ketergantungan dan kerentanan pasokan.
Karena itu, Wakil Ketua Umum PAN ini mengingatkan program transisi energi Indonesia perlu memberi ruang penyesuaian terhadap kebutuhan dan bauran energi, dengan mempertimbangkan aspek ketersediaan, keterjangkauan, kemampuan, keberlanjutan, dan kehandalan.
"Bagi Indonesia pengembangan energi nuklir adalah salah satu pilihan sumber energi yang bersih dan handal untuk mewujudkan ketahanan energi nasional," tuturnya.
Adapun dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 Indonesia mencanangkan pengoperasian PLTN tahun 2032 dan 2034 dengan total kapasitas 500 MW (megawatt) yang diproyeksikan meningkat menjadi 7 GW (gigawatt) tahun 2040.
BERITA TERKAIT: