Begitu dikatakan Kepala Center of Digital Economy and SME’s Indef, Eisha M. Rachbini dalam webinar bertema “Keluh Kesah Masyarakat, Saat Harga Pangan dan Energi Meningkatâ€, Kamis (14/4).
Ketidakseimbangan permintaan dan pasokan, kata Eisha, terjadi setelah meredanya pandemi Covid-19 di dunia, yang menyebabkan terhentinya semua aktivitas ekonomi dan sosial. Seperti permintaan yang berangsur pulih dari konsumen akan komoditas minyak goreng belum disambut memadai oleh sisi
supply.
"Hal itu terjadi karena kecepatan
demand tidak dapat diimbangi oleh faktor produksi di industri karena masih terhambat akibat terhentinya produksi karena pandemi," ujar Eisha.
Faktor kedua, kata dia, terjadi disrupsi
supply chain, di mana selama pandemi terjadi
layoff shipping firm yang mengganggu distribusi barang di seluruh dunia.
"Akibatnya
supply terhambat dan tidak memenuhi permintaan pasar barang dan jasa yang mulai berangsur pulih," katanya.
Dua kondisi itu, lanjutnya, semakin diperburuk dengan terjadinya perang Rusia dan Ukraina yang langsung mendorong kenaikan harga minya bumi di atas 100 dolar AS per barel. Begitu pula harga komoditas yang lain seperti CPO, batubara, nikel dan kakao.
"Rusia dan Ukraina adalah produsen terbesar gandum dunia, oil, metal, nikel dan batubara serta bahan baku fertilizer. Perang mengakibatkan harga komoditas-komoditas penting tersebut naik tinggi," pungkasnya.
BERITA TERKAIT: