Elektabilitas Masih Rendah, Ini Saran bagi Andika Perkasa Jika Ingin Bertarung di Pilpres 2024

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/agus-dwi-1'>AGUS DWI</a>
LAPORAN: AGUS DWI
  • Selasa, 09 November 2021, 05:41 WIB
Elektabilitas Masih Rendah, Ini Saran bagi Andika Perkasa Jika Ingin Bertarung di Pilpres 2024
Jenderal Andika Perkasa harus bisa dongkrak elektabilitas jika berminat maju pada Pilpres 2024/Net
rmol news logo Munculnya nama Jenderal Andika Perkasa yang telah disetujui Komisi I DPR RI untuk menjadi Panglima TNI yang baru diiringi spekulasi bahwa sang Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) itu akan ikut meramaikan perhelatan akbar Pemilihan Presiden 2024. Salah satu pendorongnya adalah masa jabatan Andika sebagai Panglima TNI yang hanya 13 bulan saja.

Namun demikian, peluang Andika untuk menjadi kandidat kuat calon presiden pada 2024 masih belum meyakinkan. Terutama karena elektabilitasnya yang masih rendah. Apalagi jika dibandingkan sesama mantan militer yang saat ini sudah mulai diapungkan untuk menjadi kandidat pada Pilpres 2024 mendatang.

Dituturkan Direktur Eksekutif Indonesia Public Institute (IPI), Karyono Wibowo, berdasarkan hasil survei SMRC September 2021, elektabilitas Andika hanya 1 persen.
 
Bandingkan dengan para mantan militer seperti Prabowo Subianto yang mendapatkan dukungan 20,7 persen, Agus Harimurti Yudhoyono 4,5 persen, dan Gatot Nurmantyo 1,7 persen.

Menurut Karyono, modal elektabilitas 1 persen jelas masih belum cukup untuk merayu partai politik agar mau mendukung Andika. Oleh karena itu, untuk bisa melaju mulus sebagai kandidat presiden, Andika harus mendongkrak popularitas dan elektabilitasnya.

Hal ini mutlak dilakukan Andika jika melihat sejarah elektabilitas yang diraih para mantan Panglima TNI. Gatot Nurmantyo dan Moeldoko elektabilitasnya juga masih sangat rendah, belum beranjak dari 3 persen.
 
Bahkan, elektabilitas mantan Panglima TNI Wiranto juga tidak signifikan dibanding figur sipil.
 
"Justru elektabilitas tokoh berlatar belakang militer yang tinggi elektabilitasnya bukan dari jabatan panglima. Seperti Susilo Bambang Yudhoyono dan Prabowo Subianto. Dalam sejarah pemilihan langsung, baru SBY yang terpilih menjadi presiden," terang Karyono, Minggu (7/11).
 
Realitas tersebut, lanjut Karyono, mengkonfirmasi bahwa elektabilitas lebih berhubungan erat dengan faktor personalitas. Yaitu karakter, rekam jejak, success story, popularitas, dan kapabilitas.
 
Sedangkan jabatan hanya sekadar instrumen penunjang yang bisa digunakan untuk mendongkrak popularitas dan elektabilitas sejauh dilakukan dengan tepat, kata Karyono.
 
Meski demikian, tambah Karyono, Andika masih memiliki peluang untuk mendongkrak popularitas dan elektabilitasnya, meskipun sangat sulit jika targetnya capres.
 
"Kecuali, jika di posisi cawapres, menurut saya lebih realistis dan masih memungkinkan daripada maju sebagai capres. Jika targetnya capres, hampir pasti Andika akan kepontal-pontal mengejar kandidat lain," demikian Karyono Wibowo. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA