Demikian kerangka gagasan yang digulirkan oleh Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari. Mengapa Jokowi perlu berpasangan dengan Prabowo Subianto. Menurut Qodari, dirinya tak ingin polarisasi di tengah masyarakat efek dari Pilpres 2014 dan 2019 menjadi bom waktu yang tiba-tiba meledak.
"Yang dipikiran saya adalah (kekhawatiran polarisasi) masyarakat. Yang dipikiran saya apa yang terjadi di Amerika Serikat itu terjadi di sini. Nah kalau pak Prabowo mau Alhamdulillah, kalau tidak mau mari kita yakinkan agar pak Prabowo mau," kata Qodari dalam program Mata Najwa bertajuk Gaduh Tiga Periode: Peluang Jokowi di Pilpres 2024, Kamis (18/3).
Qodari tak ingin peristiwa peralihan Presiden di Amerika Serikat dimana pendukug Donald Trump menyerbu gedung Kongres Amerika Serikat Capitol Hill karena tidak setuju dengan hasil Pilpres terjadi di Indonesia.
Hal ini, oleh Qodari dianggap anomali sekaligus buruknya efek polarisasi masyarakat Amerika Serikat akibat Pilpres. Padahal, kata dia, peradaban Amerika yang umur negaranya sudah 245 tahun, dengan kualifikasi dan tingkat pendidikan masyarakatnya yang dapat dikatakan berbeda dengan Indonesia bisa terbelah akibat Pilpres.
"Jadi jangan berpikir peristiwa yang nun jauh disana tidak bisa terjadi di sini," tandas Qadari.
"Ini saya buka saja, pada Pilpres 2014, pendukung Prabowo saat itu mau mengagalkan pelantikan Jokowi-Jusuf Kalla," ungkap Qadari.
BERITA TERKAIT: