Hal itu disampaikan oleh ekonom senior, Faisal Basri saat menjadi narasumber webinar dengan judul "
Memahami Oligarki, Aspek Ketatanegaraan, Ekonomi Dan Politik Pemberantasan Korupsi" yang diselenggarakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
"Jadi kalau kita lihat semakin marak korupsi, semakin cenderung turun pertumbuhan ekonomi itu. Kita lihat pertumbuhan ekonomi turun 8,7,6,5 ya," ucap Faisal Basri, Selasa (9/6).
Karena kata Faisal, semakin kuat tindakan korupsi dan semakin kuat para oligarki di Indonesia, maka dampak negatifnya ialah terhadap menurunnya pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Faisal pun menyinggung pernyataan Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko yang menyebut bahwa KPK merupakan penghambat investasi, sehingga harus dilemahkan.
"Ada yang bilang ini saya sebut nama aja lah ya, Pak Moeldoko dan Ketua Umum Kadin mengatakan KPK itu penghambat investasi. Oleh karena itu harus dilemah kan. Enggak bener, justru investor yang datang itu akan sangat berkualitas kalau korupsinya kecil," kata Faisal.
Karena kata Faisal, korupsi merupakan satu hal yang dikeluhkan oleh investor asing. Sehingga investasi asing tidak mau datang ke Indonesia karena tidak mau berinvestasi atau bermain kotor saat berinvestasi.
"Nah karena apa, karena untuk menghasilkan satu barang itu saya kalau di Indonesia butuh investasi lebih besar. Karena harus nyogok kiri kanan, yang saya sogok bukan Golkar dizaman orde Baru, yang saya sogok harus berbagai partai. Kekuatan tidak terkonsentrasi. Satu oligarki atau satu penguasa atau satu patron enggak cukup melindungi kekuasaan saya," terang Faisal.
"Nah jadi tercermin dari investor takut karena kalau investasi di Indonesia niscaya dia tidak bisa bersaing di pasar global karena kalah dengan investor di negara lain yang tidak ada korupsi, yang ekonominya efisien sehingga harganya bersaing," sambung Faisal.
Sehingga kata Faisal, investor asing yang masuk ke Indonesia semakin banyak yang berorientasi pasar dalam negeri yang tidak ada persaingan dari global.
BERITA TERKAIT: