Oleh karena itu, kaum muda Indonesia diharapkan belajar mengenali politik yang sehat dengan menghalau kebohongan dan pembohongan yang menyesatkan.
"Saat ini, kalangan politisi Indonesia, kaum birokrat, kaum muda, dan hamper semua segmen tengah mengalami anomali politik. Bahkan, sekelas pihak Kementerian Komunikasi dan Informasi pun kewalahan mengatasi dan memberantas hoax," tutur Direktur Eksekutif Indo Survey & Strategy, Hendrasmo dalam Diskusi Publik Jaringan Aktivis Indonesia (Jarak Indonesia) di Jakarta, baru-baru ini.
Bahkan, Amerika Serikat yang selama ini dikenal sebagai salah satu negara kampiun demokrasi, menurut Hendrasmo, kini tengah dirundung politik destruktif. Hal itu tergambar dari upaya Presiden AS Donald Trump yang begitu risau dengan kondisi demokrasi di negerinya. Sehingga, Trump memanggil para petinggi militernya untuk sumpah setia.
"Karena ia takut, apa yang terjadi di negerinya dianggap bagian dari permainan Rusia. Trump memecat jaksa yang terkenal sangat konsen dan lurus dalam hal penumpasan korupsi. Trump juga mengangkat anaknya menjadi bagian dari petinggi di negerinya," ujar Hendrasmo.
Paling tidak, lanjut Hendrasmo, dalam kontestasi politik, ada 18 persen rezim jatuh karena kudeta. Mulai dari cerita Fraancis Fukuyama.
"Semua itu bisa dimulai karena terjadinya disinformasi atau informasi yang tidak akurat," ujarnya.
[wid]
BERITA TERKAIT: