Kalau Luhut Sekuat Sekarang Gus Dur Tak Mungkin Jatuh

Pengakuan Muhaimin Iskandar

Senin, 27 Maret 2017, 08:30 WIB
Kalau Luhut Sekuat Sekarang Gus Dur Tak Mungkin Jatuh
Luhut Panjaitan/Net
rmol news logo Posisi dan peran Luhut Panjaitan yang semakin kuat di pemerintahan ini semakin banyak yang mengakui. Muhaimin Iskandar berkeyakinan, kalau Luhut sekuat ini saat berada di kabinet Gus Dur, maka Gus Dur tak mungkin dilengserkan. Seorang pengamat lebih terang lagi memuji Luhut, "Dulu ada kelakar RI satu setengah itu Ibu Mega, yang benar Pak Luhut lah yang RI satu setengah itu."
 
Cak Imin, sapaan akrab Muhaimin, menyebut Luhut yang saat ini menjabat Menko Kemaritiman sudah bertransformasi menjadi ahli politik piawai. Jauh lebih hebat saat jadi menteri di era Gus Dur.

Pujian ini disampaikan Cak Imin saat menyampaikan sambutan dalam acara Pembukaan Sekolah Kepemimpinan Gus Dur di Markas PKB, Jakarta, kemarin. Luhut yang mengenakan kemeja kotak-kotak warna merah hadir sebagai dosen umum.

Di awal sambutan itu, Cak Imin bercerita kehebatan Gus Dur, namun Cak Imin menyayangkan kepemimpinan Gus Dur sebagai presiden tak lama. Tak sampai genap dua tahun atau 22 bulan.

Nah, barulah Cak Imin kemudian menyinggung Luhut. Dia bilang Luhut adalah teman Gus Dur. Malah pernah menjadi menteri di era Gus Dur yakni menteri perindustrian dan perdagangan. Cak Imin mengakui jika kini Luhut sudah bertransformasi menjadi sosok yang piawai di dunia politik. "Sayangnya kehebatan politiknya baru muncul saat ini. Bayangkan kalau kehebatan politik Pak Luhut muncul saat Gus Dur jadi presiden, enggak mungkin jatuh jadi presiden," ujarnya yang disambut tawa hadirin.

Mendengar selorohan itu, Luhut yang duduk di depan mengarahkan kepalan tangannya ke arah Cak Imin sambil tersenyum. Tak berhenti di sana, Imin kembali mencandai Luhut. "Memang kehebatan Luhut itu muncul di akhir-akhir. Kayak jagoan, itu menang di akhir. Sayangnya dulu Pak Luhut belum canggih mempertahankan Gus Dur," kata Muhaimin. "Akhirnya, kita-kita lah yang mempertahankan Gus Dur sampai 22 bulan jadi presiden. Tapi, ya lumayan lah," ungkapnya, yang kembali disambut tawa hadirin.

Luhut bicara juga dalam kesempatan itu soal kehebatan Gus Dur, tapi dia sama sekali tak menjawab selorohan Cak Imin soal dirinya sekarang lebih hebat.

Benarkah omongan Cak Imin soal Luhut? Pengamat Politik dari Universitas Parahyangan Bandung Prof Asep Warlan Yusuf mengamini pujian Cak Imin untuk Luhut. Peran Luhut di pemerintahan Presiden Jokowi sekarang ini sangat dominan dan berpengaruh. Menurut Asep, Luhut begitu dekat dengan Jokowi.

"Dulu ada kelakar RI satu setengah itu adalah Ibu Megawati. Tapi kalau dilihat dari kiprah politik, Luhut lah yang sebenarnya menjadi RI satu setengah itu," kata Asep.

Menurut Asep, kedekatan dengan Jokowi-lah yang jadi alasan kenapa PKB memilih mengundang Luhut dibanding Menkopolhukam Wiranto yang sebenarnya lebih pas. "Karena Cak Imin tahu untuk berkomunikasi dengan Jokowi, bisa dengan Luhut," ungkapnya.

Asep menjelaskan, di mata publik, tugas Menko Kemaritiman sebenarnya tidak terlalu dominan. Jabatan tersebut bukan jabatan sentral. Tapi fakta di lapangan tidak seperti itu. Hampir segala urusan dikerjakan Luhut. Soal Freeport dan reklamasi, Luhut pasang badan. Begitu juga saat ada genting ketika Ketua MUI yang juga Rais Aam PBNU KH Maruf Amin dicaci Ahok di pengadilan. Luhut yang langsung turun tangan meredam agar masalah tak berpanjangan.

Dia bilang, ada tiga alasan kenapa Luhut begitu dominan dan dekat dengan Jokowi. Pertama, Luhut berpengalaman di dunia strategi militer. Luhut pula sudah kenyang makan asam garam berpolitik di Golkar. Selain itu, Luhut kini sangat dekat dengan pengusaha. "Kombinasi tiga kekuatan itu yang hanya dimiliki Luhut. Tidak ada orang lain yang memiliki kematangan strategi, kekuatan uang, dan dukungan partai. Itu kenapa Jokowi sangat mengandalkan Luhut," ujarnya.

Munculnya dominasi Luhut di pemerintahan, secara tak langsung mengubur peran Wapres JK yang saat berduet dengan SBY dijuluki The Real President. Di samping usia JK yang sudah senja, dan tak setrengginas dulu, peran JK pun banyak diamputasi dan agak diberi jarak dan dijauhkan dari urusan-urusan penting. Contoh simpelnya, saat ada heboh aksi bela Islam, JK yang sebenarnya paling pas untuk berkomunikasi dengan pendemo anti Ahok, tidak diturunkan. "Sangat disayangkan orang berpengalaman seperti JK kini hanya seperti wapres di era Soeharto. Hanya duduk manis di belakang meja," ungkapnya.

Pengamat politik UIN Jakarta Pangi Syarwi Chaniago bilang, peran Luhut dalam mengawal pemerintahan Jokowi tak bisa dipungkiri. Kata dia, jika diibaratkan dalam peperangan, Luhut adalah pemimpin operasi lapangan yang menjalankan agenda setting Jokowi. Luhut-lah yang ada di balik pemenangan Setya Novanto sebagai Ketum Golkar. Luhut pula yang pasang badan terhadap lawan politik Jokowi. Membalas komentar lawan politiknya dengan bahasa-bahasa lugas dan keras. "Ibaratnya Luhut ini singa yang jinak. Galak kepada yang lain tapi tetap jinak di dekat Jokowi," kata Pangi.

Pangi khawatir, dominannya Luhut di kabinet ini bisa merusak sistem ketatanegaraan kalau ada tugas dan wewenangnya yang tumpang tindih. "Ini sebenarnya yang harus diluruskan Jokowi. Menko Kemaritiman tapi tak hanya mengurusi laut, tapi juga darat. Bahkan politik dan keamanan." ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA