Begitu simpul analis Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Dani Setiawan kepada
Kantor Berita Politik RMOL sesaat lalu, Selasa (3/1).
Dijabarkan Dani bahwa laporan JP Morgan tersebut bisa dilihat sebagai respon lembaga keuangan atau investasi AS tersebut atas persepsi semakin dekatnya hubungan Indonesia dengan China. Kedekatan yang semakin erat belakangan ini, sambungnya, sudah barang tentu akan mengganggu kepentingan AS di kawasan.
"Jadi bisa dikatakan, sesungguhnya ini adalah manifestasi "perang AS-China" atau "AS-Rusia" yang dijalankan melalui lembaga keuangan internasionalnya," jabarnya.
Dalam hal ini, Dani mengingatkan pemerintah untuk lebih berhati-hati dalam memperhitungkan efek ekonomi dan politik internasional bagi Indonesia.
Hubungan kemitraan Kemenkeu dengan JP Morgan Chase Bank N.A. sebagai bank persepsi dalam program tax amnesty berakhir di awal 2017. Langkah itu diambil terkait hasil riset JP Morgan yang dinilai mengganggu stabilitas keuangan nasional.
Dirjen Perbendaharaan Kemenkeu Marwanto Harjowiryono telah mengirimkan surat kepada Direktur Utama JP Morgan Chase Bank, N.A. di Jakarta pada tanggal 9 Desember lalu.
Sebelumnya, dalam situs Barrons Asia, riset JP Morgan Chase Bank N.A. melakukan downgrade rating atas Indonesia dan Brazil. Lembaga itu menilai, dengan imbal hasil obligasi Amerika Serikat lebih bagus maka bisa menarik aliran modal sekaligus membuat premi risiko negara berkembang meningkat.
[ian]
BERITA TERKAIT: