"Saya kira silakan orang boleh tuduh macam-macam, bebas kan," ujar Ahok di Rumah Lembang, Menteng, Jakarta Pusat, kemarin.
Seperti diketahui, Ahok sempat menangis saat membacakan nota pembelaan di persidangan perdana kasus penistaan agama yang membelitnya, Selasa (13/12). Pria bernama lengkap Basuki Tjahaja Purnama ini menangis saat menceritakan riwayat hidupnya.
Ahok yang lahir dari pasangan nonmuslim di Belitung Timur diangkat menjadi anak oleh keluarga muslim asal Bugis, Makassar, Sulawesi Selatan. Kecintaan Ahok pada keluarga angkatnya begitu membekas di hatinya. Suara Ahok tertahan ketika menceritakan kisahnya merawat sang ibu angkat hingga ke pemakamannya. Kata Ahok, dia tidak mungkin melecehkan agama Islam, agama yang dianut orangtua angkatnya.
"Ya saya teringat orangtua saya. Kok sedih banget gitu ya, orangtua saya dari dulu bantu Muslim, bapak (angkat) saya juga Muslim yang taat, masa sih saya menghina, menista bapak saya sendiri, ibu saya sendiri. Saya merasa sedih aja. Emosilah kita perasaan kaya gitu," ucap Ahok melanjutkan keterangannya.
Soal banyaknya tanggapan tangisan Ahok itu palsu, petahana Pilgub DKI Jakarta ini tak hirau. Silakan menuduh macam-macam. Namun, dia mencoba meyakini kalau dia adalah pria yang jarang menangis. "Saya tuh nggak pernah keluar air mata, pas ayah meninggal saja kita baru keluar air mata," tandas Ahok.
Seperti diketahui, begitu Ahok menangis di persidangan, publik dan dunia maya heboh menanggapi tangisan Ahok. Banyak yang nyinyir dan tidak sedikit juga yang ikutan sedih terbawa emosi penjelasan Ahok di persidangan.
Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Muhammad Al Khotot menilai air mata Ahok di persidangan adalah air mata buaya alias palsu. Dia mengatakan itu setelah keluar dari bangku persidangan, dan berbaur dengan massa aksi di depan eks PN Jakpus, lokasi sidang Ahok. Persidangan perdana Ahok diwarnai unjuk rasa. "Anda ingin mendengar persidangan? Jadi seperti ini, Ahok katanya besar dari keluarga TNI, dari keluarga tentara. Ternyata menangis di persidangan. Ini lucu," ujar Khotot yang disambut dengan cibiran massa. "Itu air mata buaya. Orang bohong seperti itu. Betul apa betul?" tambahnya.
Cibiran juga datang dari wakil rakyat di Senayan. Sekretaris Fraksi PAN, Yandri Susanto menilai tangisan Ahok tidak tulus. Selain itu, dia beranggapan pernyataan Ahok di persidangan justru telah memperkeruh suasana. Sebab, dalam nota keberatan atas dakwaan jaksa, Ahok menyatakan surat Al Maidah ayat 51 dia tujukan kepada oknum politisi yang acap kali menggunakan surat itu secara tidak benar.
"Apa yang dikeluarkan tidak menyejukkan. Sebagai terdakwa sejatinya tidak mengeluarkan pembelaan seperti itu, kembali menyinggung banyak orang. Jadi maaf dia tidak ikhlas, tidak tulus, tidak dari lubuk hati," kata Yandri di Kompleks Parlemen.
Berbeda, politisi senior PDIP Said Abdullah menilai tangisan Ahok di persidangan tulus dari hati, bukan air mata buaya apalagi rekayasa. "Terkait dengan tangisan Ahok, sesungguhnya Ahok sejak awal telah menyadari tentang apa yang diucapkan oleh dirinya, dan Ahok tulus meminta maaf kepada publik," ujar Said.
Anggota Komisi XI DPR ini juga mengajak publik menyerahkan sepenuhnya kepada pengadilan terkait proses hukum Ahok. Apakah nantinya Ahok akan dipenjara atau tidak. "Karena ini telah bermuara pada pengadilan, kami yakin akan berjalan sesuai dengan koridor, bahwa Ahok dipenjara atau tidak biarkan pengadilan yang akan memutuskan. Yang penting kita kawal bersama masyarakat, tidak perlu gaduh," ujar dia.
Di dunia maya, komentar atas tangisan Ahok tidak kalah ramai. Banyak yang menilai tangisan Ahok air mata buaya. Bahkan, tidak sedikit yang menuding, tangisan korban penggusuran di Jakarta jauh lebih tulus dibandingkan tangisan Ahok.
"Kalo kata orang jawa: gak sumbut ambek nakale hehe #AirMataBuaya," cuit @viraagustinaa. Disambut @wartapolitik, "Wahai Ahok, air matamu yang tumpah hari ini tak sebanding dengan air mata ribuan orang yang kau gusur, kau pecat, dan kau maki-maki di depan umum," cuitnya.
Namun, ada juga netizen yang menaruh simpati terhadap Ahok. "Bukan air mata buaya tapi air mata seorang manusia yg terdzolimi, kesedihan mendalam karena memang tidak ada niat apalagi sengaja," cuit @AshaBandini.
Ahok Roller CoasterSementara, dalam survei terbaru yang dirilis Lingkaran Survei Indonesia (LSI), elektabilitas Ahok mulai naik untuk pertama kalinya. Elektabilitas Ahok ini seperti roller coaster. Cepat turun, cepat naik.
Kira-kira begitulah temuan dari hasil survei yang dirilis LSI Denny JA, di kantor LSI Jalan Pemuda, Jakarta, kemarin. Peneliti Adjie Alfaraby mengungkapkan, pihaknya sudah lima kali melakukan survei. Yaitu pada Maret, Juli, Oktober, November. Hasilnya, elektabilitas calon petahana itu selalu turun. Pada Maret lalu, elektabilitas Ahok ada di angka 59,3 persen. Di November elektabilitas Ahok anjlok hingga ke angka 10,6 persen. Kini, di survei Desember dukungan terhadap Ahok kembali naik hingga 14 persen ke angka 27,1 persen.
Adapun elektabilitas tertinggi ada di pasangan nomor urut 1, Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni dengan raihan 33,6 persen. Sementara di posisi buncit ada pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno dengan dukungan 23,6 persen. Sebanyak 15,7 persen responden belum menentukan pilihan.
Survei dilakukan secara tatap muka terhadap 440 responden pada tanggal 1-6 Desember lalu di Jakarta. Survei menggunakan metode sampling acak bertingkat dengan tingkat kesalahan plus minus 4,8 persen.
Adjie menjelaskan ada tiga alasan yang menyebabkan elektabilitas Ahok rebound. Pertama, Ahok mulai berubah sikap. Tampak low profile dan mulai menghindari bicara yang kesannya arogan, kasar dan kontroversi. Alasan lain, permohonan maaf Ahok yang berulang-ulang disampaikan mulai diterima sebagian publik. Walau tetap banyak yang anti Ahok, tapi sebagian hati publik sudah memaafkan dan melupakan. "Di sebagian pemilih Ahok dinilai hanyalah korban dari politisasi agama. Ahok dianggap oleh segmen ini dizalimi dan dianiaya," kata Adjie.
Namun Adjie mewanti-wanti. Kembalinya dukungan publik terhadap Ahok ini belum cukup mengembalikan Ahok di posisi 1. Ada dua alasan penyebabnya. Pertama, status Ahok sebagai tersangka kasus penistaan agama cukup fatal. Sebanyak 65 persen responden tidak bersedia dipimpin oleh gubernur berstatus tersangka. "Selain itu, masalah penistaan agama melukai mayoritas pemilih muslim. Sebesar 64, 7 persen menyatakan Ahok bersalah," ungkapnya.
Adjie juga mengingatkan Ahok dan timnya, bahwa dari hasil survei juga diketahui bahwa sebanyak 60,3 persen publik Jakarta ingin gubernur baru. Jika Ahok dan timnya tak segera bebenah, Ahok potensial kalah di putaran pertama.
Namun demikian, Adjie menjelaskan Pilkada DKI masih 63 hari lagi. Masih banyak yang mungkin terjadi meski swing voters semakin mengecil yakni di angka 15 persen. Adjie menjelaskan ada dua asumsi untuk menggambarkan pertarungan pilkada DKI nanti. Jika sentimen ingin gubernur baru masih di angka 60 persen, Ahok akan tersingkir di putaran pertama.
Kedua, jika tren elektabilitas Agus-Sylvi naik stabil, maka pasangan cagub nomor urut 1 ini akan lolos putaran selanjutnya. Pengadilanlah yang akan menentukan apakah Ahok akan lolos babak final atau tidak. "Drama di pengadilan adalah sesuatu yang menentukan nasib Ahok di mata pemilih Jakarta," ujarnya.
Bagaimana tanggapan Anies? Eks Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu tampaknya tak terlalu risau dengan hasil survei LSI yang menempatkannya di posisi buncit.
Tak cemas, karena menurut Anies, hasil itu berbeda dengan hasil survei yang dibikin tim internal. "Kalau hasil survei sendiri, hasil lebih besar. Cuma tidak kami publikasikan," kata Anies, di Jakarta, kemarin.
Berapa tingkat elektabilitas Anies-Sandi menurut tim internal, Anies tidak mau mengungkap. Namun, kata dia, peluang yang ada semakin besar. banyak pemilih yang belum menentukan pilihan.
Ketua Tim Pemenangan Ahok-Djarot, Prasetio Edi pun tak terlalu peduli dengan hasil survei yang dirilis LSI Denny JA. Soalnya, menurut dia, hasil survei kadang tak akurat dengan fakta di lapangan. Contohnya saja di Pilkada DKI 2012. Saat itu sejumlah lembaga survei menyebut cagub Fauzi Bowo alias Foke yang mendapat elektabilitas dan popularitas yang tertinggi. Kenyataannya, yang meraup suara lebih banyak adalah pasangan Jokowi-Ahok.
"Saya sampaikan sekali lagi, 2012 contohnya. Jokowi-Ahok kalah, tapi buktinya menang," kata Prasetio. ***
BERITA TERKAIT: