Namun setelah peristiwa unjuk rasa diselenggarakan akibat kasus dugaan penistaan terhadap kitab suci Al Quran, Syukur Alhamdullilah telah tampil sikap perilaku yang membahagiakan dan membanggakan yaitu bersaing berbuat baik. Memang satu di antara beberapa dampak samping unjuk rasa adalah kerusakan lingkungan terutama terhadap tanaman-tanaman yang kebetulan berada di kawasan unjuk rasa.
Mubazir apabila saling menyalahkan sebab tanaman-tanaman rusak terinjak-injak bukan hanya oleh mereka yang berunjuk-rasa namun juga bisa oleh mereka yang menyaksikan peristiwa ujuk-rasa langsung di lokasi. Memang tidak ada kesengajaan namun secara faktual terbukti tanaman-tanaman di taman kawasan Balai Kota Jakarta memang rusak.
Alih-alih saling menyalahkan ternyata yang terjadi adalah persaingan untuk membenahi taman. Yang membanggakan adalah sikap keteladanan profesionalisme para petugas pertamanan Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang tanpa komentar menyalahkan pihak mana pun juga, langsung
sepi ing pamrih rame ing gawe menunaikan tugas mereka membenahi taman yang rusak agar kembali menjadi indah permai seperti semula.
Sekelompok masyarakat spontan turun ke taman demi secara nyata membantu para petugas pertamanan Jakarta memugar taman yang rusak akibat peristiwa unjuk-rasa.
Para pengunjuk rasa memprakarsai gerakan memungut sumbangsih sukarela dari para pengunjuk rasa demi meringankan beban biaya pemugaran kembali taman yang rusak di tengah suasana pemangkasan anggaran biaya pemerintah.
Direncanakan setelah usai sholat Jumat seminggu setelah unjuk-rasa, masyarakat akan turun ke taman demi membantu upaya para petugas pertamanan memulihkan keindahan taman di kawasan Balaikota DKI Jakarta yang terinjak-injak pada saat unjuk rasa sedang menggelora. Kesadaran atas pelestarian lingkungan hidup masyarakat Indonesia dapat dibanggakan sebagai suatu citra peradaban adiluhur.
Namun yang tidak kalah membanggakan adalah kenyataan bahwa masyarakat Indonesia masa kini bukan sekedar bersaing demi memperebutkan kekuasaan namun bersaing dalam berbuat baik. Kenyataan bahwa masyarakat Indonesia masa kini bersaing dalam berbuat baik, Insya Allah jangan sampai dinodai dengan sinisme cemooh seperti pura-pura, cari muka, pencitraan, politisasi, pahlawan kesiangan, dan hujatan lain-lainnya.
Justru demi melestarikan bahkan mengembangkan sikap dan perilaku positif masyarakat, kita bersama jangan mencemooh dan merendahkan namun wajib menghormati dan menghargai sikap dan perilaku masyarakat yang bersaing dalam berbuat baik.
Alangkah indahnya kehidupan di persada Nusantara tercinta ini apabila masyarakat bukan bersaing dalam berbuat buruk namun bersaing dalam berbuat baik seperti melestarikan lingkungan, membantu meringankan derita kaum miskin, membina para pedagang kaki lima, menata bukan menggusur rakyat miskin, melestarikan karsa dan karya kebudayaan daerah, menegakkan keadilan dalam hukum, menghargai perbuatan baik dan lain-lain hal bersifat positif konstruktif dalam bersama berjuang membangun negara tanpa mengorbankan lingkungan alam, sosial, budaya apalagi rakyat demi bersama meraih cita-cita terluhur bangsa Indonesia yaitu masyarakat adil dan makmur. Merdeka! [***]
Penulis adalah pendukung perbuatan baik
BERITA TERKAIT: