Hal itu seperti diungkapkan politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Muhammad Nasir Djamil di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (19/10).
"Mereka itu seiring tapi tak sejalan. Kan orang ada yang seiring sejalan, kalau mereka seiring tak sejalan. Bisa jadi seperti itu," ujarnya.
Nasir mengakui posisi JK sebagai wapres tentu tidak sebagai ban serep. Sebab, JK juga membantu Jokowi dalam menyelesaikan tugas-tugas kenegaraan. Tidak sejalannya pasangan Jokowi-JK mungkin dikarenakan jarang jalan berdua di tempat umum. Atau bisa juga ibarat seperti sedang perang dingin.
Kemudian, terkait jarangnya JK berinteraksi dengan media. Nasir menilai itu hanya karena dia memilih untuk lebih menahan diri. Bukan berarti JK merasa disakiti tapi justru menahan diri untuk mengomentari hal-hal yang tidak perlu.
"Ketika di awal pencalonan dulu dia (JK) bilang 'akan hancur negara ini kalau Jokowi jadi presiden'. Nah dia punya tanggung jawab untuk menjaga kalimat itu, jangan sampai itu terjadi, tidak mungkinlah masyarakat lupa dengan pernyataan JK, dan Jokowi juga tidak akan lupa," beber Nasir yang juga anggota Komisi III DPR.
[wah]
BERITA TERKAIT: