Diharapkan aksi ini segera diikuti oleh seluruh Polres di DKI Jakarta dan terpenting juga peran aktif dari Kementerian Sosial.
Demikian dikatakan Wakil Ketua DPD Gusti Kanjeng Ratu Hemas, Selasa (29/3).
Ia mengaku prihatin karena eksploitasi anak untuk dipekerjakan mengemis, mengamen, dan menjadi joki 3 ini 1 sudah berlangsung lama. Ironisnya, respon pemerintah dinilainya masih sangat lamban.
Gebrakan Polres Jakarta Selatan menjadi angin segar yang mengingatkan aparat agar lebih peduli kepada nasib anak-anak terlantar yang sesungguhnya sedang disiksa di depan mata mereka.
"Sangat sering kita lihat anak kecil mengenakan kaus seadanya mengemis di bawah hujan dengan menggigil, sedangkan orang dewasa yang memaksa mereka mengawasi dari tempat teduh. Menteri Sosial dan para pejabat tentu juga pernah melihat hal ini," ujarnya.
Untuk itu Hemas berharap tindakan Polres Jakarta Selatan itu dapat membuka mata dan hati para pejabat bahwa mereka dapat berbuat lebih banyak untuk mengatasi masalah ini.
Salah satu yang dapat dilakukan ialah dengan menangkap semua anak jalanan yang mengemis di Jakarta dan memeriksa hubungan mereka dengan orang dewasa yang menyuruh mereka. Bila terbukti tak ada hubungan darah, besar kemungkinan telah terjadi tindakan kriminal. Dalam hal ini, Polri dapat turun tangan.
Sedangkan bagi anak-anak jalanan yang dieksploitasi, pemerintah melalui Kemensos harus mengambil alih pemeliharaan dan pembinaan mereka.
"Inii sesuai dengan amanat Konstitusi. Menteri Sosial hendaknya lebih aktif menangani masalah ini, mengingat ini terjadi terjadi di depan mata dan terlihat sehari-hari," katanya.
Selain itu, pihaknya berharap agar masyarakat juga diharapkan lebih peduli dengan tidak sembarangan memberi sedekah.
[wid]
BERITA TERKAIT: