Hal itu dikemukakan dosen Fisip Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) sekaligus pemerhati sosial dan politik asal Sumut, Shohibul Anshor Siregar saat berbicara dalam diskusi hasil survei "Analisis Kausalitas Tingkat Partisipasi Politik pada Pilkada Medan 2015" yang diselenggarakan oleh RE Foundation di Medan, Sumut, beberapa waktu lalu.
Dikatakannya, survei itu penting, namun hasilnya harus didudukkan sebagai
clue belaka untuk pendalaman masalah-masalah di bawah fenomena yang maujud.
Jelas dia survei lazimnya tak pernah mampu menukik apa yang ada di bawah permukaan, meski pun dalam demokrasi transaksional Indonesia dianggap sangat penting terutama karena keterkaitannya dengan
political marketing yang dibutuhkan oleh banyak kandidat.
"Betul bahwa industri survei begitu marak dan menghasilkan uang yang begitu besar. Tetapi ilmuan sosial tidak boleh mati kutu dalam
demand dangkal itu," ujar Shohibul.
Menyinggung partisipasi pemilih yang demikian rendah di Kota Medan (26 persen), Shohibul menegaskan adanya enam faktor penyebab. Yaitu makro politik, mikro politik, perlakuan negara terhadap Golkar dan PPP, teknis kepemiluan,
money politics dan faktor pasangan calon.
[rus]
BERITA TERKAIT: