Penolakan terhadap CT berangkat dari undangan presiden Joko Widodo terhadap bekas Menteri Koordinator Perekonomian tersebut ke Istana Negara, kemarin (Selasa, 21/10). Sekretaris Jenderal Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (Pro Dem), Satyo Purwanto, menuding figur CT sarat akan konflik kepentingan.
"Dia tidak punya ideologi dan kemampuan untuk menjadi menteri yang menangani persoalan ekonomi. Dia bisanya dagang," kata pria yang akrab disapa Komeng ini, Rabu (22/10).
Menurut salah satu eksponen gerakan reformasi 98 ini, CT tidak memahami ekonomi mikro. Dengan begitu, cita-cita menciptakan kemandirian ekonomi yang diajarkan pendiri bangsa, yang terkandung dalam Tri Sakti, tidak akan terwujud.
"Dia (CT) penganut neo-liberalisme. Tidak mungkin akan menciptakan bangsa ini mandiri di bidang ekonomi. Lihat saja bagaimana kerjanya selama menjadi Menko Perekonomian era SBY-Boediono," ujar Komeng.
Diingatkannya, Jokowi tidak perlu takut dengan tekanan dari kelompok neo-liberalisme. Dia harus tetap konsisten membentuk kabinet ahli yang profesional. Diakuinya, dalam menentukan komposisi kabinet, Presiden Jokowi memiliki hak prerogatif.
"Tapi, jika kabinet yang dibentuk tidak sesuai dengan janji dan keinginan rakyat, akan berpotensi anti klimaks bagi hubungannya denga relawan," tegasnya.
[ald]