Demikian disampaikan pengamat politik, Ray Rangkuti, menanggapi keputusan Jokowi-JK yang didukung Tim Transisi itu.
"Ini menjadi langkah awal pemerintahan Jokowi yang kurang mengesankan. Kenapa? Karena sejak awal Jokowi menjanjikan adanya upaya efesiensi dalam pengelolaan keuangan negara. Salah satunya memotong anggaran untuk kabinet," ujar pendiri LSM Lingkar Madani untuk Indonesia itu, lewat pesan elektronik.
Dalam rangka itu tadi, lanjut Ray, Tim Transisi kemudian menyebarkan isu bahwa postur kabinet Jokowi hanya berkisar 28 orang. Pemberitahuan itu sempat menaikan simpati dan keyakinan masyarakat bahwa Jokowi memang serius akan melakukan efesiensi anggaran operasional pemerintahan.
Janji itu tadinya juga sempat dibaca sebagai konsistensi terkait kampanye Jokowi bahwa tidak akan ada bagi-bagi kursi untuk parpol di kabinet. Semua orang yang masuk ke kabinet semata karena pertimbangan kualifikasi dan keahlian.
"Tapi pengumuman struktur kabinet tetap 34 orang menteri, di mana komposisinya 18 profesional dan 16 dari professional partai, sedikit mengguncang harapan akan adanya kabinet efesien, efektif dan berorientasi kerja," terangnya.
[ald]