Tugas Jokowi Lebih Mudah dengan Menteri Usia Muda

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/aldi-gultom-1'>ALDI GULTOM</a>
LAPORAN: ALDI GULTOM
  • Senin, 15 September 2014, 19:52 WIB
Tugas Jokowi Lebih Mudah dengan Menteri Usia Muda
rmol news logo Faktor usia ikut menjadi ukuran bagi kriteria pengisi jabatan menteri di kabinet Jokowi-JK. Usia seringkali dikaitkan dengan kemampuan bekerja keras dan efektivitas kerja sesuai dengan keinginan Jokowi.

Direktur Indonesia Law Reforms Institute (ILRIns), Jeppri Firdaus Silalahi, menyatakan bahwa harapan terhadap pemerintahan Jokowi - JK ke depan adalah kemampuan untuk menyelesaikan program perubahan sesuai dengan target.

"Kita berharap kementerian ini tidak berganti selama 5 tahun sehingga semua program bisa terselesaikan sesuai target-target yang ingin dicapai dan mampu berjalan secara efektif. Itu tidak hanya ditentukan oleh kemampuan para menterinya tapi juga hubungan emosional serta cara komunikasi antara Jokowi dan para menterinya," tutur Jeppri kepada wartawan, Senin (15/9).

Menurut Jeppri akan lebih baik bagi Jokowi-JK jika menteri yang dipilihnya dari kalangan muda, apakah itu dari profesional ataupun dari partai politik. Hal ini menjadi sangat penting mengingat Jokowi memiliki tipikal pemimpin Jawa yang penuh kesantunan dan ewuh pakewuh. Agak sulit bagi Jokowi yang berusia 53 tahun untuk memberikan perintah yang tegas kepada para menteri yang usianya jauh lebih tua darinya, meskipun secara konstitusi Menteri merupakan pembantu Presiden.

"Apalagi untuk kementerian yang memang menjadi prioritas bagi Jokowi seperti Kementrian ESDM," terangnya.

Jeppri menyebutkan nama-nama calon menteri ESDM yang masuk nominasi antara lain : Ari Soemarno (65 tahun), Poltak Sitanggang (47 tahun), Karen Agustiawan (56 tahun), Kurtubi (63 tahun), Tumiran (54 tahun), Koentoro Mangkusubroto (67 tahun) dan Evita Legowo (63 tahun).

"Agak sulit dibayangkan bagaimana kemudian untuk hal-hal darurat dan mendesak, Jokowi harus memanggil dan memerintahkan menterinya yang sudah sepuh. Sulit kita bayangkan bagimana para menteri ESDM berusia sepuh harus melakukan sidak di kawasan-kawan pertambangan dan minyak yang umumnya tidak berada di tengah kota melainkan di pelosok-pelosok pedalaman, di tengah-tengah laut dan lain sebagainya," urai Jeppri terkait alasannya kenapa orang muda cenderung lebih baik.

Di akhir pernyataannya, Jeppri menegaskan bahwa kinerja Jokowi tidak boleh terganggu karena hal-hal teknis seperti itu. Di sisi yang lain, usia sepuh membuat orang kehilangan ketegasan karena mereka menjadi lebih pemaaf di usia itu. Tentu tidak mungkin Jokowi mampu memberantas mafia migas dengan menteri berusia sepuh.

Terpisah, pengamat politik dari Lingkar Madani (Lima), Ray Rangkuti,  mengatakan hal senada. Menurutnya untuk posisi di Kementerian ESDM ia cenderung melihat perlunya mendorong orang-orang muda untuk duduk di kursi kabinet.

"Jokowi sendiri menginginkan figur yang pekerja keras, bersih dan rekam jejak baik. Nah itu identik dengan anak muda," jelasnya.

Ia juga melihat bahwa penting adanya penyegaran di republik ini dengan tidak lagi menempatkan muka-muka lama di kursi pemerintahan. Kedua, yang terpenting adalah perlunya penyegaran dengan mendorong orang-orang baru dan tidak lagi memaksakan wajah-wajah lama di Kabinet Jokowi-JK ke depan.

Keinginan akan menteri usia muda tampak dari banyaknya pemilih di situs beranilawanmafia.com yang dikelola oleh mahasiswi Indonesia di Singapura. Dari 4 kandidat yang diusulkan dalam polling yang digelar sejak kemarin (Minggu, 14/9) tersebut, nama Poltak Sitanggang (47 tahun), merupakan kandidat termuda dari 3 kandidat lainnya. Ia unggul jauh dengan 334 pemilih dari 26.176 pengunjung yang melihat situs tersebut hingga Senin sore tadi. [ald]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA