"Tidak
fair jika kita mengolok-olok kesaksian seorang Novela yang sedang memperjuangkan hak konstitusionalnya di Mahkamah Konstitusi," kata Direktur Eksekutif Nurjaman Center for Indonesian Democracy (NCID), Jajat Nurjaman, kepada wartawan, Rabu (13/8).
Jajat menilai, sistem pemilihan di Papua terdiri dari beberapa cara yang digunakan, salah satunya sistem noken. Namun, sistem noken juga dilakukan dengan musyawarah dan mufakat dengan warga adat setempat. Pertanyaannya, apakah dalam sistem noken Pilpres kemarin mengharuskan saksi dari kedua kubu hadir atau tidak. Jika tidak, tentu harus ditelusuri kejanggalannya.
"Keberanian seorang Novela untuk bersaksi dalam persidangan di Mahkamah Konstitusi patut diapresiasi. Pasalnya, menurut pengakuan dari beberapa saksi lainnya dalam persidangan yang secara langsung meminta perlindungan kepada Mahkamah, membuktikan adanya tekanan dan resiko besar untuk memperjuangkan demokrasi," kata Jajat.
Menurut dia, semua pihak harus bisa menghormati dan menghargai semua proses yang sedang berjalan di Mahkamah Konstitusi. Apapun yang terjadi dalam persidangan jangan dijadikan opini karena hanya akan memperkeruh suasana sehingga berpotensi menimbulkan konflik antar kedua kubu.
"Kita harus yakin para hakim di Mahkamah Konstitusi akan mengeluarkan keputusan paling bijak, tentu itu merupakan keputusan terbaik bagi rakyat Indonesia," tandasnya.
[ald]
BERITA TERKAIT: