"Kita tak tahu apakah ini skenario yang sengaja dibuat oleh keluarga ini untuk menguasai cabang partai di daerah itu. Siapapun yang menang bisa tetap berkuasa," kata pengamat politik Ray Rangkuti di Jakarta, Selasa (8/4).
Dukungan dari keluarga Sinyo Harry Sarundajang untuk memenangkan Partai Demokrat seakan tidak ada dan jauh dari harapan. Bahkan keluarganya justru mendukung PDI Perjuangan yang merupakan "musuh" Demokrat. Hal tersebut ditandai dengan masuknya keluarga Sarundajang sebagai pengurus dan calon anggota legeslatif dari PDIP.
Di Sulawesi Utara, seluruh anggota keluarga Sinyo, termasuk istrinya kini juga menjabat posisi strategis, baik di organisasi besar maupun di dunia perpolitikan. Seluruh anggota keluarganya mencalonkan diri sebagai anggota DPR, DPD, dan DPRD provinsi. Anak tertua dari Gubernur Sulawesi Utara itu, Ivan Sarundajang, menjadi Wakil Bupati Minahasa, yang diusung oleh PDI Perjuangan.
Kemudian Vanda Sarundajang, kini tercatat sebagai caleg PDIP daerah pemilihan Sulawesi Utara. Anak ketiga Sarundajang, Fabian Sarundajang, juga mengikuti jejak sang kakak. Sedangkan anak keempat Sarundajang, Eva Sarundajang, memilih jalur DPRD Provinsi Sulawesi Utara dari daerah pemilihan Kota Bitung dan Kabupaten Minahasa Utara, juga maju lewat PDIP.
Menurut Ray, meskipun pilihan politik boleh berbeda untuk membangun sebuah demokrasi, namun gejala tersebut dinilai tidak lazim. Karena kekuasaan biasanya dibangun dalam sebuah gerbong partai yang sama.
"Dinasti yang lazim di Indonesia satu gerbong yang sama. Ini merupakan pilihan politik untuk menguasai. Partai menjadi tidak penting, yang penting keluarga tetap berkuasa," ungkapnya.
Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia (LIMA), ini menambahkan, upaya Sinyo Harry Sarundajang untuk menjadi capres Demokrat, bertolak belakang dengan keluarganya, yang justru mendukung PDIP.
"Karena demokrat menunjukkan gejala meredup, mereka menerapkan taktik untuk memilih gerbong lain," pungkas Ray.
[rus]
BERITA TERKAIT: