“Satgas Kuala melibatkan sekitar 200 personel, dipimpin oleh Wakil Panglima TNI sebagai Komandan Satgas,” kata Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta pada Senin malam, 5 Januari 2026.
Ada dua tugas utama dalam Satgas Kuala, yakni Gugus Tugas Pendalaman Kuala Tamiang dan Gugus Tugas Normalisasi Kuala.
Dengan kesepakatan tersebut, pergeseran kapal dan peralatan akan dilaksanakan secara bertahap sampai minggu kedua Januari 2026, dengan lokasi awal Sungai Tamiang sebagai titik kumpul utama.
Setelah alat berat tiba, awal pelaksanaan tugas Satgas Kuala direncanakan dimulai awal Februari 2026.
Ini dilakukan seiring dengan program rehabilitasi dan rekonstruksi yang tengah berjalan.
“Dukungan logistik disiapkan oleh Kementerian Pertahanan, termasuk pemanfaatan fasilitas pendukung yang diperlukan seperti speed boat dan hovercraft. Gugus Tugas Normalisasi juga akan dilengkapi dengan peralatan penjernih air, guna membantu penyediaan air bersih bagi masyarakat di sepanjang bantaran sungai dan kawasan muara,” jelas Sjafrie.
Lalu, untuk pengurusan administrasi lingkungan akan dikoordinasikan Mabes TNI serta penyelenggaraan layanan kesehatan mandiri untuk personel Satgas Kuala selama bertugas di lapangan.
“Kendali operasi Satgas Kuala akan dilaksanakan dari Kapal Markas Kementerian Pertahanan yang dikawal oleh KRI, dengan koordinasi erat bersama pemerintah daerah kabupaten serta instansi terkait lainnya,” pungkas Sjafrie.
Selain 200 personel, Satgas ini juga melibatkan unsur profesional termasuk Jhon Lin.
Seperti diketahui bersama, Sjafrie Sjamsoeddin membentuk Satuan Tugas (Satgas) Kuala dalam upaya pendangkalan sungai dan muara di wilayah terdampak akibat bencana Sumatera.
BERITA TERKAIT: