Harga BBM Naik, Penjualan Mobil Matik Bakal Tergerus

Daya Beli Masyarakat Diramal Lesu

Senin, 13 Mei 2013, 07:51 WIB
Harga BBM Naik, Penjualan Mobil Matik Bakal Tergerus
ilustrasi/ist
rmol news logo Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia(Gaikindo) memprediksi, pasar mobil bakal turun hingga 15 persen jika pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi. Penurunan terbesar diprediksi terjadi pada varian mobil bertransmisi otomatis (matik).

Pasalnya, mobil matik membutuhkan putaran mesin lebih tinggi untuk menggerakan roda dibanding mobil tipe manual. Efeknya akan lebih banyak menenggak bensin.

Pengamat otomotif Suhari Sargo tak menampik hal itu. Namun, ia memprediksi, penurunan tidak akan lebih dari 10 persen.

“Memang ada korelasinya (mobil matik lebih boros BBM). Tapi pengaruhnya sangat kecil. Penurunan tak akan lebih dari 10 persen,” kata Suhari kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Menurut Suhari, pengguna mobil matik umumnya terdapat di kota-kota besar yang rawan kemacetan. Di situasi seperti ini, baik mobil matik maupun manual sama borosnya.

“Karena sama-sama boros, ya orang tetap pilih matik karena lebih nyaman saat macet. Kalaupun penjualan turun, pasti sedikit sekali,” terang Suhari.

Lain halnya untuk daerah di luar Pulau Jawa yang masih lengang. Suhari bilang, penurunan penjualan mobil matik bakal lebih terasa.

“Kalau jalanan lengang, pasti orang pilih mobil manual karena mobil matik jauh lebih boros kalau dipakai ngebut. Di kondisi seperti ini, penurunan penjualan matik bakal besar,” jelasnya.

Meski belum bisa dipastikan apakah harga BBM dinaikkan atau tidak, dia berpesan agar industri mobil bersiap-siap menghadapi gelombang efek kenaikan harga BBM subsidi.

“Pasti akan ada shock di awalawal kenaikan. Penjualan pasti turun dua atau tiga bulan. Semua tergantung kondisi ekonomi. Kalau kondisi bagus, pasti penjualan mobil bakal stabil kembali,” katanya.

Stabilitas Keamanan

Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor (TAM) Joko Trisanyoto mengatakan, kenaikan harga BBM bukan satu satunya faktor yang harus diantisipasi pebisnis otomotif. Situasi keamanan serta stabilitas politik juga harus diperhitungkan.

“Kurangnya kenyamanan dalam keamanan dan politik bisa mengganggu masyarakat untuk membeli sesuatu,” tutur Joko.

Dia mencontohkan, penjualan mobil pernah jatuh sekitar tahun2006 karena kenaikan harga BBM yang ujung-ujungnya menciptakan inflasi tinggi serta jebloknya pertumbuhan ekonomi. Tak heran, bila pengelola perusahaan otomotif kini mencermatidampak kenaikan harga BBM terhadap pertumbuhan ekonomi dan lonjakan inflasi.

“Kalau cuma bensin naik dan tak ada dampak ke pertumbuhan ekonomi dan inflasi, saya kira efek ke pasar mobil tidak akan lama,” jelas Joko.

Direktur Pemasaran PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Amelia Tjandra mengakui, kenaikan harga BBM memang akan berdampak terhadap penjualan mobil. Tetapi, dia optimis dampaknya tidak terlalu lama.

“Menurut hitungan, mungkin cuma tiga bulan. Setelah itu normal kembali,” ujar Amelia.

Meskipun harga BBM dinaikkan tahun ini, Gaikindo memprediksi, pertumbuhan ekonomi serta kenaikan pendapatan perkapita bisa menyeimbangkan kenaikan harga BBM tahun ini.

“Kuartal 1 penjualan hampir 300.000 unit. Jika dikalikan empat kuartal, jumlahnya 1,2 juta unit. Kalau apes, penjualan turun, tapi 1,1 juta unit tetap tercapai,” kata Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto pede.

Tahun lalu, penjualan mobil mencapai 1,16 juta unit. Untuk tahun ini, Gaikindo menargetkan, jumlah mobil yang terjual setidaknya sama dengan tahun lalu. Selama kuartal pertama 2013, angka penjualan mobil mencapai 295.909 unit. [Harian Rakyat Merdeka]


Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA