Pengamat otomotif Suhari Sargo mengatakan, pasar mobil matik saat ini sangat ganÂdrungi masyarakat. HamÂpir semua proÂdusen mobil mengÂhaÂdirkan proÂduknya dengan tekÂnoÂlogi matik. Meski harganya mahal, pasar mobil matik makin kinclong.
“Kondisi jalanan yang macet alasan utama orang membeli mobil matik. Dengan transmisi otomatis, mereka tidak perlu berÂpegal-ria kaÂrena kaki kiri mengÂinjak pedal kopÂling seperti pada mobil berÂtransÂmisi manual,†kata Suhari kepada
Rakyat MerÂdeka, kemarin.
Menurut PurÂnaÂwiÂrawan TNI Angkatan Darat berÂpangkat KoÂlonel ini, keunggulan utama dari mobil bertransmisi otomatis juga lebih praktis untuk diÂkendarai, karena tidak perlu repot. Pemilik mobil matik harus lebih rajin meÂlakukan peÂrawatan diÂbanding yang manual agar mesin tetap awet. Karena jika rusak, biaya perbaikÂannya akan lebih mahal ketimbang mobil matik.
“Tipe transmisi berbeda, peraÂwatan harus berbeda. Namun seiring perkembangan zaman, sudah banyak bengkel umum yang bisa memperbaiki mobil matik. Jadi, pengguna tak perlu khawatir lagi,†kata Suhari.
Mengenai bahan bakar, menuÂrutnya, hanya berbeda sedikit deÂngan manual. “Matik itu kan suÂdah diatur secara otomatis. Jika manual mungkin bisa diatasi agar lebih irit dengan memainÂkan kopÂling untuk pindah gigi bisa diatur di rpm rendah,†urai Suhari.
Karena perkembangan tekÂnologi, lanjut Suhari, mobil matik diÂklaim sama irit dengan mobil manual. “Tapi semua tergantung dari kondisi jalan dan cara berÂkendara,†kata Suhari lagi.
SuÂhari menjelaskan, umumnya harÂga mobil matik dibanderol leÂbih tinggi daripada harga mobil bertransmisi manual. Sedangkan untuk mobil bekas pakai, perbeÂdaan harga jual antara mobil maÂtik dengan manual tidaklah beÂgitu mencolok, hanya terÂpaut sekitar dua sampai tiga jutaan.
Peminat mobil matik memang kebanyakan mereka yang tinggal dan beraktivitas harian di kawasÂan yang macet, seperti Jakarta. Meski demikian, DirecÂtor SuÂzuki Indomobil Sales Endro Nugroho meyakini bahwa atensi pasar terhadap mobil manual masih lebih besar.
“Atensi pasar matik tidak seÂbesar manual. Karenanya, moÂbil-mobil Suzuki masih konsen di paÂsar mobil bertransmisi maÂnual. Kami memulai secara berÂtahap sehingga Ertiga yang saat ini sedang
booming semakin panÂjang ceritanya. Pertama muÂlai duÂlu dari manual,
double blower, baÂru kemudian matik. Satu-satu dulu biar makin seru,†ujar Endro.
Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie D Soegiarto justru melihat potensi penjualan mobil matik sangat besar di InÂdonesia.
“Apalagi soal kenyamanan, orang banyak yang lebih memilih matik ketimbang manual,†ucap Jongkie kepada
Rakyat Merdeka.Menurut Jongkie, meskipun potensi pasarnya terus meningÂkat, harga mobil matik yang lebih maÂhal sekitar Rp 10 juta keÂtimÂbang manual, masih menjadi pertimÂbangan.
Ditanya jumlah estimasi penÂjualan mobil matik, Jongkie beÂlum bisa memastikan.
â€Gaikindo tidak bisa mengÂhitung secara kaÂsar karena baÂnyak APM yang menyediakan mobil matik seÂtengah dari perseÂdiaan mobil maÂnual. Pada kuartal III-2012, penÂjualan mobil tipe non sedan bertransmisi otomatis naik 45,08 persen dari 77.452 unit pada taÂhun 2011 menjadi 112.368 unit,†jelas Jongkie. [Harian Rakyat Merdeka]