Sang ‘Macan Kemayoran’ Persija Jakarta tampil menjadi kampiun setelah menghempaskan ‘Serdadu Tridatu’ Bali United 3-0. Dua dari tiga gol Persija diborong striker asal Kroasia, Marco Simic, ditambah satu gol lainnya oleh Novri Setiawan.
Tidak hanya memboyong Piala Presiden RI dan uang tunai Rp3.3 miliar, Persija juga sukses membawa tiga trofi lainnya yaitu pemain terbaik, pencetak gol terbanyak, dan pemain muda terbaik. Pemain terbaik dan pencetak gol terbanyak diborong Simic dengan 12 gol. Raihan dobel itu mengantar Simic diguyur hadiah Rp 200 juta (pemain terbaik) dan Rp 150 juta (pencetak gol terbanyak). Tropi pemain muda terbaik jatuh ke tangan Rizaldi Hehanusa yang memberikan assist kepada Simic saat mencetak gol pertama ke gawang Bali United. Atas prestasi ini, Rizaldi mendapat hadiah Rp 100 juta.
Selain hadiah-hadiah itu, juga diberikan tropi tim fair play kepada Bali United, serta suporter terbaik kepada Bobotoh Persib Bandung. Sementara runner up Bali United meski kecewa berat kalah di final, tetap bisa tersenyum membawa pulang hadiah Rp 2,2 miliar. Sriwijaya FC yang menjadi juara ketiga setelah mengalahkan PSMS Medan 4-0, berhak atas hadiah Rp 1,1 miliar, sedangkan PSMS pulang dengan Rp 550 juta.
Gegap gempita Piala Presiden 2018 memang telah ditutup dengan pertandingan megah di stadion megah, meski kata Bang Ara (Muaruarar Sirait, steering committee Piala Presiden 2018) termasuk murah meriah. Kenapa bisa murah meriah? Karena Piala Presiden 2018 ini memang digelar dengan spirit sportivitas, transparansi, dan murah meriah.
Satu lagi, Piala Presiden 2018 dilaksanakan tanpa menggunakan dana APBN sama sekali, tetapi murni dari para sponsor seperti Indofood, Indika, Smartfren, dan Indosiar.
Dan spirit yang diusung itu ternyata bukan untuk ‘ngecap’ saja. Buktinya, sejak dari babak penyisihan, kemudian lanjut 8 besar, semifinal, dan final, Piala Presiden 2018 berjalan sangat mulus dan sportif. Bahkan di setiap pertandingan, pengelolaannya dilakukan dengan terbuka, baik itu jumlah tiket, penonton, pemasukan tiket, bahkan jumlah pedagang kaki lima dan asongan.
Seperti laporan Bang Ara semalam, tercatat jumlah penonton di sepanjang Piala Presiden 2018 ini 423114 orang dengan total pendapatan tiket kurang lebih Rp 20.229.000.000. Rata-rata penonton di setiap pertandingan 19.232 penonton. Khusus untuk laga final semalam, total pemasukan tiket Rp6 miliar lebih sedikit. Laga final itu juga mencatat rekor jumlah PKL yaitu 1.063 orang dan asongan 334 orang.
Ini sekaligus menjadi bukti, bahwa PSSI dan tentu saja di bawah Maruarar Sirait sebagai SC, benar-benar telah menjalankan tugasnya sesuai dengan keinginan Presiden Joko Widodo.
Presiden Jokowi dalam setiap kesempatan menyaksikan sepakbola selalu menekankan agar prestasi sepakbola Indonesia terus ditingkatkan, tetapi tetap harus menjadikan olahraga rakyat yang bisa memberi kebahagian pada rakyat, baik itu penggemar sepakbola itu sendiri, maupun pedagang kali lima dan asongan. Pasalnya pertandingan sepakbola tidak bisa dilepaskan dari kehadiran ribuan suporter dan itu adalah pasar luar biasa buat PKL dan asongan.
Menyaksikan laga final antara Persija Jakarta dan Bali United seluruh mata pasti setuju pertandingan itu berjalan sangat enak ditonton karena sportif dan fair play. Bahkan tidak hanya laga final itu, sejak dari babak penyisihan, tidak banyak terjadi letupan di lapangan. Itu juga menjadi sukses tersendiri bagi Piala Presiden 2018 ini. Artinya harapan menjadikan turnamen ini sebagai ajang mengadu sportivitas dan profesionalitas antar klub maupun pemain, cukup berhasil. Ini tentu bisa menjadi modal besar bagi PSSI kedepan, terutama untuk menjalankan kompetisi liga yang berkualitas dan profesional demi untuk meraih prestasi terbaik sepakbola Indonesia di dunia internasional.
Di sini terlihat perangkat pertandingan yang semakin siap dan profesional sehingga setiap pertandingan berjalan dengan lancar dan aman. Begitu juga dengan pemain yang semakin dewasa menyikapi berbagai dinamika di lapangan, menjadikan Piala Presiden 2018 sebagai tontonan yang menarik. Ini tidak terlepas perubahan mindset tentang sportivitas dan fair play yang selama ini diperjuangkan PSSI sudah mulai membuahkan hasil.
Satu lagi, dari sisi pengelolaan suporter, di Piala Presiden 2018 ini juga sangat ‘indah’. Di mana para suporter Indonesia bisa bersatu dan berangkulan mengusung sepakbola tanpa kerusuhan dan keributan.
Meski masih ada letupan-letupan kecil, namun seperti yang tersaji di laga final semalam, para suporter justru mampu menambah kemegahan dan kemeriahan dari Piala Presiden 2018. Nyanyian serta yel-yel dukungan terus menggema memberi dukungan kepada tim kesayangan.
Inilah seharusnya terjadi, bukan makian, cacian, lemparan, atau bahkan pengrusakan yang menghiasi pertandingan. Semoga kedepan suporter Indonesia bisa terus seperti ini demi untuk melihat sepakbola Indonesia yang lebih berharkat dan bermartabat sebagai salah satu alat pemersatu bangsa.
Intinya, Piala Presiden 2018 adalah prestasi. Piala Presiden 2018 juga menjadi bukti bahwa sepakbola Indonesia memiliki masa depan cerah. Seperti kata Bang Ara didepan Presiden Jokowi, “Kita sudah sampai membangun olahraga yang sportif, transparan, dan murah meriahâ€.
Lalu apalagi, Presiden Jokowi telah berkehendak, PSSI mau berubah, pemain dan perangkat pertandingan juga makin profesional, dan tentu saja suporter yang makin dewasa, adalah modal untuk membawa sepakbola Indonesia ‘melesat’ menuju sepakbola yang berprestasi dan selalu bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Semoga.
[***]
WuryantoWartawan desk Olahraga
Harian Rakyat Merdeka