Kabid Operasi dan Penegakan Hukum Satpol PP DKI Jakarta, Surbakti mengatakan, awalnya ada 421 bangunan di lahan seluas 9,5 hektar tersebut. Sebanyak 87 bangunan di antaranya yang masih bertahan tinggal di sana, selebihnya telah pindah.
"Tersisa sekitar 87 bangunan. Yang lainnya sudah ambil uang kerohiman antara Rp 10 -120 juta," ujar Surbakti kepada wartawan, Rabu (9/10).
Penertiban yang dilakukan, lanjutnya, dilaksanakan berdasarkan permohonan pemilik lahan yaitu PT Graha Cipta Kharisma.
"Kita sudah mengecek PBB di kelurahan dan risalah tanah di BPN, sudah konfirmasi dan sah kepemilikannya," tegasnya.
Dalam aksinya, aparat Satpol PP menurunkan lima alat berat untuk menghancurkan bangunan dan 20 truk untuk membantu mengangkut barang-barang warga.
Kapolres Metro Jakarta Timur, Kombespol Mulyadi Kaharni mengatakan kehadiran polisi di lokasi untuk mengamankan penertiban yang dilakukan oleh Pemprov DKI.
"Polisi netral tidak memihak. Kita disini agar petugas lancar dan kita juga menerjunkan polwan agar masyarakat pada saat penertiban tidak terkena dampak," paparnya.
Namun terkait pembakaran shelter bus Transjakarta, Mulyadi mengatakan kalau pihaknya telah menemukan dua orang yang menjadi porvokator aksi tersebut. Namun penangkapan dua oknum ini akan dilakukan bila kondisi sudah kondusif.
"Sudah kami identifikasi tinggal menunggu situasi yang lebih kondusif," katanya.
Untuk diketahui pembongkaran dilaksanakan mulai pukul 06.00 WIB tadi. Hingga saat ini ruas jalan dari I Gusti Ngurah Rai ke dua arah masih ditutup sekitar 3 km. Jalan ditutup mulai dari fly over Buaran hingga lampu merah Klender untuk mengamankan pembongkaran.
Warga yang menolak melakukan aksi membakar ban bekas di tengah jalan. Situasi semakin memanas ketika aparat terus merangsek maju. Warga mulai melempari petugas dengan batu. Polisi pun pun membalas dengan menembakkan gas air mata dan menyemprotkan air dengan water canon ke arah kerumunan warga. Karena terdesak warga kalap membakar Halte Transjakarta Buaran. Sebanyak 2.100 personil kepolisian, Satpol PP, dan TNI yang diterjunkan berhasil menghentikan perlawanan warga dan mengendalikan situasi sekitar 06.00 WIB sehingga eksekusi bisa dilaksanakan.
[wid]