Dikutip dari
infosatu.co, salah satu anggota JMSI, Rudy terpantau berjalan menuju Rumah Jabatan tanpa memberikan pernyataan kepada awak media maupun petugas yang berada di lokasi.
“Mungkin sedikit saja pak, ada yang mau disampaikan?” tanya jurnalis tanpa mendapat jawaban dari Gubernur.
Massa yang tergabung dalam Aksi 21 April sebelumnya memadati gerbang Kantor Gubernur di Jalan Gajah Mada, Samarinda sejak siang hari. Dengan membawa spanduk dan pengeras suara, para orator bergantian menyampaikan tuntutan.
Sejumlah peserta aksi mengaku sempat melihat keberadaan Rudy Mas’ud di dalam kantor, memantau jalannya demonstrasi dari ruang kerjanya. Namun, hingga sore hari, gubernur tidak menemui massa.
Kondisi itu memicu kekecewaan yang berujung pada meningkatnya tensi aksi. Memasuki pukul 18.00 WITA, sebagian massa mulai melakukan pelemparan ke arah dalam kantor gubernur.
Botol air mineral, batu, hingga pecahan material lainnya dilemparkan sebagai bentuk pelampiasan kekecewaan. Di saat yang sama, aksi pembakaran ban terjadi di ruas jalan depan kantor gubernur, menambah ketegangan dengan kepulan asap yang membumbung di lokasi.
Mereka menyuarakan tiga tuntutan, yakni meminta audit total kebijakan pemerintah, pembersihan praktik nepotisme dan penguatan taji legislatif dalam mengontrol kebijakan eksekutif.
Melihat situasi yang kian tidak terkendali, aparat keamanan akhirnya mengambil langkah tegas. Petugas menyemprotkan air menggunakan
water cannon untuk membubarkan massa.
Aparat kepolisian dan Satpol PP yang berjaga di balik pagar tetap siaga mengamankan objek vital tersebut. Setelah tindakan pembubaran dilakukan, massa berangsur meninggalkan lokasi dengan pengawalan ketat aparat.
Meski situasi berangsur kondusif dan gubernur telah meninggalkan kantor pada malam hari, hingga berita ini diturunkan pihak Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur belum memberikan keterangan resmi.
BERITA TERKAIT: