Namun siapa sangka, merebaknya penyebaran virus corona justru membawa berkah bagi sebagian warga Kabupaten Pangandaran. Salah satunya adalah pedagang jamu tradisional yang jualannya laris manis seiring banyaknya masyarakat yang ingin daya tahan tubuhnya tetap terjada dari paparan virus Covid-19 ini.
Berbekal ramuan dengan bahan rempah rempah lokal seperti kunyit, jahe emprit, jahe merah, kayu manis, temulawak, dan serai, pedagang jamu raup keuntungan berkali lipat dari biasanya.
“Sekarang jadi banyak peminatnya. Dari ahun 1972, baru kali ini saya bikin jamu hingga 20 liter per harinya," ungkap pedagang Jamu asal Desa Cikembulan, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran, Narti (59), Sabtu (21/3).
Sejak 48 tahun lalu berkeliling jualan, kata Narti, peminat jamu tradisional relatif mudah dihitung jari. Namun, untuk saat ini, ia mengaku kebanjiran order meski harga yang dipatok lebih tinggi dari biasanya.
“Iya naik dari biasanya. Per gelas itu kalau sebelum ada Covid-19, harganya cuma Rp 4.000, sekarang jadi Rp 7.000 karena bahan baku cukup sulit," paparnya, dikutip
Kantor Berita RMOLJabar.Sebelumnya, jelas Narti, jenis jamu yang diproduksi hanya beras kencur, kunyit asam, anggur, dan beberapa jamu lainnya. Kini, dia menambah racikannya dengan bahan-bahan yang berdasarkan informasi mampu mencegah masuknya virus corona ke dalam tubuh.
“Katanya sih beberapa rempah itu bisa buat pencegahan corona. Maka saya bikin aja jamu ini dan peminatnya juga cukup tinggi,†tandasnya.
BERITA TERKAIT: