Siswa tetap mengerjakan semua tugas-tugas sekolahnya, dengan pantauan orangtua.
Dinas Pendidikan Jakarta (Disdik DKI) pun telah memberikan panduan tugas untuk kepala sekolah, guru, orangtua, dan siswa, demi suksesnya program belajar dari rumah atau home learning
Selama 14 hari belajar dari rumah, sekolah memberikan sejumlah tugas pada siswa yang dikirimkan oleh guru melalui email dan aplikasi.
Namun, ternyata belajar dari rumah bukanlah hal yang mudah.
Di media sosial banyak orangtua ‘curhat’ bagaimana menghadapi kesantaian anak-anaknya yang belajar dari rumah.
Kantor Berita Politik RMOL pun mencoba menghubungi beberapa orangtua murid yang tinggal di sekitaran Jakarta Selatan.
Louisa, misalnya. Wanita 41 tahun yang tinggal di Cipete ini kebingungan dalam membimbing anaknya yang duduk di kelas delapan Sekolah Menengah Pertama. Menurutnya banyak gangguan dalam menerapkan belajar dari rumah.
“Baru buka buku pelajaran 30 menit, tau-tau temannya telepon atau chat. Baru mengerjakan tugas, tau-tau adiknya datang mengganggu, atau malah dianya yang mengganggu adiknya,†keluhnya.
Lain lagi dengan Dita, ibu dari seorang putri kelas sepuluh Sekolah Menengah Atas yang tinggal di Pesanggrahan. Menurutnya, saat belajar di rumah dengan menggunakan baju rumah yang santai turut berpengaruh kepada semangat belajar si anak.
“Paling bertahan belajarnya cuma satu sampai dua jam, trus nonton drakor. Belum lagi anak saya bilang ribet pake aplikasi,†keluhnya.
Lain lagi kisah Nazwa, siswi kelas tujuh Sekolah Menengah Pertama Negeri di bilangan Kebayoran. Ia bercerita ada guru yang memberikan tugas lewat tayangan video yang dikirim lewat WA. Sayangnya penjelasan sang guru dalam rekaman video itu kurang jelas. Suaranya tidak jernih dan bicaranya terlalu cepat. Guru terlihat tidak konsentrasi saat memberikan penjelasan. Alhasil ia harus menghubungi guru tersebut untuk menanyakan apa yang dimaksud dalam video itu.
“Nggak praktis,†katanya.
Berbeda pula dengan Maulida, siswa kelas sebelas di sekolah kejuruan. Ia dan teman-temannya diinfokan menggunakan Google Classroom. Tapi ternyata sang guru tidak paham cara menggunakan aplikasi tersebut.
“Giliran anaknya siap, gurunya yang tidak siap. Giliran gurunya yang semangat, anaknya yang gak punya laptop dan hapenya tidak mendukung untuk buka aplikasi itu,†jelas orangtua Maulida yang menyarankan agar kedepannya sistem pendidikan di Indonesia lebih maksimal lagi.
Pemerhati pendidikan, Indra Charismiadji mengatakan, belum semua guru siap menjalankan pembelajaran daring. Saat ini, banyak guru yang kebingungan bagaimana pembelajaran daring tersebut.
“Sekolah harusnya sudah tahu standar proses pembelajaran yang dimuat dalam Permendikbud 22/ 2016. Standar ini sudah ada sejak empat tahun yang lalu, sudah ada dalam Permendikbud 22 tahun 2016,†katanya kepada
Kantor Berita Politik RMOL. Menurutnya, sekolah harus siap dengan perubahan seperti ‘dari peserta didik diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu’ lalu ‘dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber belajar’, serta ‘dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah’, dan ‘dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis kompetensi’.
“Harus menyiapkan pula mekanisme dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu, dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi, dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif,†tutur Indra.
Maka, dari proses tersebut akan terlihat peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskills) dan keterampilan mental (softskills).
“Sekolah sudah harus membekali siswanya, ketika pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat, menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah peserta didik, dan di mana saja adalah kelas,†kata Indra.