Managemen informasi yang buruk tersebut nampak setelah Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kami mengumumkan ada tujuh pasien yang positif corona.
Dari ketujuh pasien tersebut, terdapat warga Bekasi yang sudah meninggal dunia pada 3 Maret kemarin di Rumah Sakit (RS) Dr. Hafidz Cianjur, Jawa Barat.
Padahal, pemerintahan Jokowi melalui jurubicara pemerintah Indonesia untuk Covid-19, Ahmad Yurianto telah menegaskan warga Bekasi tersebut negatif Ccorona.
Awalnya memang Yurianto menyampaikan hal yang berbeda dihari yang sama, yakni pada Selasa (3/3). Di mana, Yurianto di Istana Negara Jakarta pada siang harinya menegaskan bahwa warga Bekasi yang meninggal dunia negatif corona.
Namun, pada sore harinya di Gedung Kementerian Kesehatan, Yurianto terlihat ragu terhadap hasil laboratorium tersebut. Yurianto menyampaikan akan memastikan kembali hasil spesimen yang negatif benar milik warga Bekasi yang meninggal atau bukan.
Keesokan harinya, Yurianto kembali menegaskan bawah warga Bekasi tersebut negatif Corona.
Selang hampir dua pekan kemudian yakni pada Minggu (15/3) kemarin, Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengungkapkan hal yang berbeda. Bahwa warga Bekasi yang meninggal tersebut hasilnya positif corona.
Apalagi, istri dan anaknya juga dipastikan positif corona.
Dampak informasi yang blunder tersebut menimbulkan dampak yang buruk. Di mana, kemungkinan virus corona menyebar ke orang lain selama hampir dua pekan tersebut sangat besar.
Apalagi, wartawan yang bertugas di Bekasi sempat ke kediaman korban yang meninggal dunia tersebut usai jenazah dimakamkan.
Para wartawan berinteraksi langsung dengan keluarga korban yang ingin menyampaikan bahwa anggota keluarganya tersebut negatif corona berdasarkan hasil laboratorium yang disampaikan oleh pihak RS di Cianjur.
Menanggapi itu, Asosiasi Program Studi Pendidikan Sosiologi dan Antropologi Indonesia (APPSANTI), Ubedilah Badrun berharap para wartawan yang sempat kontak dengan pasien positif corona tidak terpapar virus tersebut.
"Saya mendo'akan kepada teman jurnalis yang sempat kontak dengan pasien positif corona, semoga tidak terkena corona," ucap Ubedilah Badrun kepada
Kantor Berita Politik RMOL, Senin (16/3).
Bahkan, Ubedilah meminta kepada wartawan yang sering berkomunikasi dan bertemu dengan narasumber dalam melakukan peliputan kasus corona di Indonesia untuk bersikap tenang dan mengikuti standar medis.
"Ketenangan merespon dan ikhtiar mengikuti standar medis adalah kunci bagi individu yang berinteraksi dengan pasien terinfeksi corona," pungkasnya.
BERITA TERKAIT: