Lebih Baik Fokus Rusunawa Aja Deh

Konsep Rusunami DP 0 Rupiah Membingungkan

Rabu, 11 April 2018, 11:41 WIB
Lebih Baik Fokus Rusunawa Aja Deh
Foto/Net
rmol news logo Pemerintah Provinsi DKI Jakarta hanya mampu me­nyediakan rumah susun milik (Rusunami) dengan uang muka alias down payment (DP) 0 Rupiah se­banyak 9.772 unit sampai 2022 dari yang dijanjikan 250 ribu unit. Sisanya, mengandalkan peran swasta melalui skema kerja sama pemerintah dan badan usaha atau sepenuhnya suplai pasar.

 Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappe­da) DKI Jakarta Tuty Kusuma­wati mengaku, ada tiga BUMN yang akan membangun Rusu­nami DP0 Rupiah, yakni PD Sarana Jaya, Jakpro, dan PD Pasar Jaya. Rusunami ini bisa dimiliki warga ber-KTP DKI Jakarta dengan penghasilan Rp 4-7 juta per bulan.

Tuty menjelaskan, warga yang berpenghasilan Rp 7 juta di­dorong untuk masuk ke pasar. Pemerintah tetap menyedia­kan talangan uang muka. Jadi besarnya KPBU dan pasar ini mendominasi untuk pemenuhan dari sisi supply side.

Dikatakannya, Pemprov me­nyediakan uang muka dengan berbagai skema yang tengah digodok yakni menyediakan 15-20 persen atau di bawah itu. Anggaran yang disiapkan lebih dari Rp 2 triliun per tahun untuk menalangi uang muka program rumah 0 Rupiah. Harga rusun diasumsikan Rp 350 juta per unit. Artinya, Pemprov me­nalangi Rp 52,5 juta per satu rusun.

"Dukungan uang muka kami menganggarkan Rp 2,625 tril­iun. Setiap tahun kita anggap ada 50 ribu konsumen yang akan mengakses rumah DP0 Rupiah," tutur Tuty.

Sementara anggarannya masuk dalam APBD Perubahan 2018. Pada 5 Maret 2018, Kepala Dinas Perumahan DKI Jakarta Agustino Darmawan menegas­kan uang muka yang diberikan Pemprov bukan subsidi.

Masyarakat tetap diminta mengembalikan melalui cici­lan. Cicilan DP dapat diangsur bersama cicilan rumah dengan tenggat maksimal 20 tahun.

Pemprov DKI juga akan men­ganggarkan Rp 1,25 triliun untuk pengadaan lahan rusun. Rusun akan dibangun di ka­wasan pinggiran Jakarta Utara, Barat, Timur, maupun Selatan untuk menjaga harga unit tetap terjangkau.

Selain membeli lahan, Pemprov DKI akan menagih kompensasi Koefisien Lantai Bangunan (KLB) dari pihak swasta. Menurut Sekretaris Daerah DKI Saefullah, KLB dari pihak swasta bisa mencapai 20 hektare.

Sebagai informasi, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Wagub Sandiaga Uno menarget­kan membangun 250 ribu rusun dalam lima tahun atau 50 ribu rusun setiap tahun. Target itu di­tuangkan dalam rencana pemban­gunan jangka menengah daerah (RPJMD) DKI 2018-2022.

Sementara itu, DPRD menilai target penyediaan rumah untuk 250.000 warga Jakarta tidak realistis. "Pembangunan rumah ini nanti Rp 13 triliun subsidinya, berapa yang disetujui perbankan? Kan, selisihnya harus dibayarkan pemda, uang kita cukup enggak? Karena mohon maaf, ini janji (rumah DP 0 Rupiah) yang se­lalu disampaikan ke mana-mana, jangan sampai tidak terealisasi," kata anggota Fraksi PKS DPRD DKI Yusriah Dzinnun.

Ketua Fraksi Partai Nasdem DPRD DKI Jakarta Bestari Barus mempertanyakan kesang­gupan Pemprov DKI Jakarta. Pasalnya, berdasarkan paparan Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Permukiman DKI Jakarta, Agustino Darmawan, kecepatan pembangunan hunian hanya sebesar 3.000 unit per tahun.

"Tiga ribu unit (per tahun)? bagaimana meningkatkannya menjadi 50.000 (unit)? Maksud saya itu, jangan sampai nanti Pak Gubernur tidak mampu melaksanakan amanat Perda RPJMD," jelasnya.

Sementara itu, pengamat ke­bijakan publik dari Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah mengatakan, Pemprov DKI me­lupakan hal yang terpenting dan lebih esensial dari uang muka 0 Rupiah, yakni dasar hukum yang jelas dan pemberian izin dari Bank Indonesia (BI) dan Otori­tas Jasa Keuangan (OJK).

"Yang terpenting ada landasan hukum dan perizinan dari otori­tas pembiayaan. Jangan terpaku dalam BLUD atau UPT, tanpa persetujuan BI dan OJK program ini tidak akan jalan," kata Trubus.

Menurutnya, pengalihan pem­bentukan BLUD menjadi UPT adalah bukti Pemprov DKI Jakarta tidak mempersiapkan secara matang konsep uang muka 0 Rupiah.

"Pembentukan UPT ini meru­pakan alibi dari Pemprov DKI untuk memperlihatkan program ini masih jalan. Padahal Pem­prov DKI sedang kebingungan atau buntu terhadap konsep DP0 Rupiah yang belum ber­landaskan hukum yang jelas," imbuhnya.

Menurutnya, untuk mengen­taskan masalah ketimpangan kepemilikan hunian di Jakarta yang mencapai hingga 300.000 rumah, Pemprov DKI bisa lebih fokus dalam pembangunan ru­mah susun sederhana sewa (Rusunawa). Hal ini lebih me­mungkinkan karena telah memi­liki landasan hukum yang tetap dibandingkan dengan program DP 0 Rupiah.

"Anies Baswedan enggan memiliki program yang sama dengan gubernur sebelumnya, ini yang membuat Pemprov DKI tidak fokus kepada program yang sudah memiliki dasar hukum. Bahkan Rusunawa lebih murah [biaya sewa] dan membantu masyarakat berpenghasilan ke­cil [di bawah upah minimum provinsi]," ungkapnya. ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA