Demikian disampaikan Zulkarnaen Tarigan, salah seorang pengurus posko pengungsi di GBKP Simpang Enam, Kabanjahe, Kabupaten Karo.
"Apapun ceritanya kalau hidup bersamaan seperti ini, tinggal di tenda, tingkat stresnya tinggi," kata dia, Selasa (3/10), seperti dilansir dari
RMOL Sumut.
Zulkarnain menjelaskan, sebagian pengungsi yang menempati posko di GBKP Simpang Enam sudah sejak tahun 2013.
Dalam kurun waktu tersebut, mereka tinggal bersama ratusan pengungsi lainnya pada beberapa tenda yang dibangun oleh pemerintah. Mereka diberi bantuan logistik oleh pemerintah dan instansi-instansi swasta secara berkal.
Namun hal tersebut menurut Zulkarnain tidak menjawab seluruh kebutuhan pengungsi terutama dari tekanan psikologis mereka.
"Kalau harus memulai dari nol ada baiknya secepat mungkin (direlokasi), biar mereka juga bisa berusaha," ungkapnya.
"Jadi harapan kami sebagai pengurus posko, bukan istilahnya sudah tidak ingin mereka disini. Tapi dari segi psikologinya juga kita butuh istirahat," ujar Zulkarnain menambahkan.
Hingga saat ini pengungsi di posko GBKP Simpang Enam berjumlah sekitar 435 KK atau 1549 orang. Mereka berasal dari Desa Sigarang-garang yang terletak di kaki Sinabung yang dinyatakan sebagai zona merah.
[rus]
BERITA TERKAIT: