Aksi premanisme tersebut dilakukan lantaran oknum LSM itu tidak terima soal pemberitaan penambangan timah ilegal yang terbit di media tersebut.
Saat dikonfirmasi, Disa mengakui sewaktu berita soal adanya penambangan ilegal dinaikkan, nama LSM maupun nama oknum-oknum yang melakukan aktivitas melawan hukum itu tidak disebutkan.
"Sebenarnya saya tidak mau memperpanjang masalah ini,sebelumnya mereka sempat ngajak bertemu, nah pada waktu itu saya sampaikan mekanisme sesuai kaidah jurnalistik, saya jelaskan juga tidak menyebutkan nama LSM maupun nama-nama orang di LSM itu. Saya kira sudah selesai, gak taunya mereka nelpon lagi ngajak ketemu, tahu-tahu mereka bilang ramai-ramai mau ke kantor. Nah waktu saya datang di kantor sudah ramai," jelas Disa kepada
RMOL Babel, Rabu (27/9).
Pertemuan di kantor redaksi kata Disa pun tak terkendali. Puluhan orang dari oknum LSM tersebut ada yang mengeluarkan kata kasar bahkan teriak-teriak.
"Suasana tidak terkendali lagi, belum sempat saya berdiri dari kursi saya didorong, ditendang hingga keluar kantor. Saya sempat keluar dari kantor, malah mereka mengejar saya dan masih melakukan pemukulan," ungkap Disa.
Karena merasa semakin terancam, Disa pun mencoba menghubungi pihak kepolisian. Selang beberapa lama aparat kepolisian datang dan suasana bisa diatasi.
"Proses hukum tetap lanjut," demikian Disa.
[san]
BERITA TERKAIT: